aku mau berbagi cuplikan novel karya afidah khairina :D baca di jamin gak pake nyesel kok..ini kisah nyata yang disimpangin dikit biar lebih dramatis katanya :D
Kelulusan
Hari ini
momen yang sangat di tunggu semua pelajar kelas XII. Mulai dari acara wisuda
bahkan pengumuman penerima beasiswa pendidikan luar negeri.
Semua murid datang dengan penampilan
yang sangat sempurna, termasuk die. Die adalah gadis yang membenci make up dan
dandan, katanya itu bisa merusak wajahnya yang masih alami. Tapi tidak dengan
hari ini, hari ini die berpenampilan sangat sempurna.
Semua mata tertuju pada die saat ia
berjalan di karpet merah, ia begitu anggun dan berpenampilan tak seperti
biasanya.
Saat ia akan duduk di tempatnya,
seorang pria menarikan kursi untuk dirinya hingga membuat die terkejut.
“duduklah, kamu cantik hari ini” kata
sion.
“makasih” jawab die sambil memberi
senyum ringan.
Sion pacar die sudah hampir tiga
tahun, namun akhir – akhir ini hubungan mereka tak seindah tahun – tahun
sebelumnya, akan banyak kenyataan pahit yang akan di alami oleh mereka berdua. “nikmati harimu, princess” ucap sion dan
segera meninggalkan die.
Die hanya tertawa ringan melihat
tingkah pacarnya itu, die menebak – nebak mungkin hari ini akan banyak kenangan
lain untuk dirinya dan teman – temannya.
Semua murid duduk di kursi wisudanya
masing – masing, tempat duduk die dan sion tak begitu berjarak, mereka masih
mudah untuk saling mencuri pandang menatap dan melempar senyum.
Acara di mulai, semua mata tertuju
pada pembawa acara. Satu demi satu murid di panggil untuk di wisuda.
Wisuda di mulai dari peringkat
pertama. Semua murid berdebar menunggu pengumuman ini.
“dan tiba saatnya, murid wisuda
pertama adalah…” suara pembawa acara itu semakin memperkuat rasa penasaran
murid – murid disana.
Ya, akhirnya di sebut juga, nama itu,
nama sang juara “SIONSIMARATA” namanya dipanggil lagi die, rupanya kali ini die
kalah. Biasanya die selalu menjadi peringkat pertama.
Sion segera berdiri dari tempat
duduknya, berjalan menuju arah kepala sekolah. Ia di wisuda pertama, sesuai
impiannya. Acara wisuda terus berlanjut, nama DIORITA AURELIA menjadi wisuda
yang ke tiga. Bukan masalah untuk die. Ia tetap bangga dengan dirinya.
Sejak semester 6 nama die sudah
menjadi kandidat beasiswa pendidikan manajem luar negeri, bukan hanya die,
namun sion juga. Mereka berdua sama – sama berprestasi. Ada 7 kandidat beasiswa
luar negeri, namun hanya akan ada satu nama yang berhasil.
Acara wisuda yang menarik, sekarang
saatnya hiburan – hiburan, dan setelah ini akan berlanjut pengumuman penerima
beasiswa.
Semua murid kelas XII hari ini
terlihat sangat gembira, mereka sekarang resmi menjadi alumni, bukan lagi siswa
di SMA Bintang Nusantara, sekolah yang cukup hebat di Malang.
Pengumuman penerima beasiswa akan
segera di cetuskan. Murid – murid mencoba menebak, tebakan mereka selalu saja
sama, kalau bukan sion yang pergi pasti die, karena walaupun mereka mempunyai
hubungan khusus mereka tetap professional di pendidikan mereka.
Lagi – lagi sion menang hari ini.
Penerima beasiswa itu sion, lagi – lagi die harus menjadi pengucap selamat
pertama, namun kali ini die tak terlalu bersedih, karena sebenarnya die tak
terlalu mengharap menjadi mahasiswi manajemen, ia sangat ingin menjadi
mahasiswa desainer.
Acara foto – foto dimulai, mereka akan
membuat kenangan indah hari ini.
“selamat ya, hari ini kamu menang
banyak” ucap die pada sion.
“justru kamu pemenangnya,” jawabnya.
“jelas – jelas kamu pemenang di antara
kita, kamu memang hebat”
“kamu lebih hebat die” sion tersenyum
memandangi pacarnya itu.
“ah bercanda mu terkesan mengejek ku
hari ini” jawab die sedikit ketus.
“tak sedikitpun maksud meledek, tapi
hari ini kamu memang pemenang die, kamu hebat bisa mencuri pandangan ku sedari
pagi tadi, bahkan saat namaku di panggil beberapa kali aku tetap tak sadar
karena memandangi kecantikanmu”
Die adalah gadis yang tak bisa di
puji, ia akan menampakkan wajah malu imutnya jika di puji oleh orang yang ia
sayang.
Mereka berdua duduk di taman setelah
acara wisuda sudah benar – benar kelar.
“ada yang mau aku tanyakan” kata die.
“jujur aku tak ingin suasana hari ini
hancur, bisa kita bahas nanti saja?” jawab sion,
“kamu tau apa yang akan aku bahas?”
ucap die menoleh kearah sion.
“aku sangat paham, kita sering
membicarakan hal ini sejak dulukan?” Tanya sion memandang die.
Die hanya terdiam dan segera
memindahkan pandangannya. Suasana tiba – tiba hening di antara mereka. Padahal
teman – teman lainnya masih juga belum pulang karena masih ingin merayakan
kebahagian mereka.
Beberapa teman menghampiri die dan
sion.
“selamat ya, kalian pasangan hebat”
Die dan sion memberi senyuman pada
teman – temannya sebagai ucapan terima kasih.
“tapi kenapa kalian terlihat panas?”
kata niar. “kalian berdua lagi ngga berantem di tengah kebahagiaan ini kan?”
sambungnya lagi.
“ah ngga kok, ayo kita bersenang –
senang” kata sion bersemangat sambil menggandeng tangan die untuk menyusul ia
berdiri.
Sion dan die mulai bergabung dengan
sahabat – sahabatnya, walaupun hati mereka tak sebahagia para sahabatnya.
Senja sudah mulai datang. Sion, die
dan beberapa temannya memutuskan pergi ke pantai untuk menikmati kebersamaan
mereka hari ini.
Senja terasa hangat untuk sion dan
die, mungkin ini akan menjadi senja terindah terakhir kali untuk mereka berdua.
“die, teruslah bahagia. Karena aku
akan terus membahagiakanmu, walau nanti akan ada jarak di antara kita.” Sion
menyadari, beasiswanya akan membuat ia dan die menjadi jauh.
“kita memang dekat, tapi sebentar lagi
kedekatan kita akan terasa jauh, kecuali kamu nanti akan kembali datang untuk
menggenggamkan tanganku” jelas die.
Suasana menjadi hening, mereka terlalu
menikmati senja dan cappuccino instan yang di beli di super market tadi.
“kamu tak perlu khawatir die, setiap
liburan aku pasti akan pulang menemui kamu di Indonesia, aku tak akan menetap
di belanda, jadi jangan pernah bersedih, aku akan kembali.”
Cappucino
Malam ini
rembulan terlihat bulat sempurna. Namun Diorita – Die - hanya terdiam di pojok
café sambil memegang secangkir cappucino hangat favoritnya. Ia berulang kali
melihat kearah jendela dan layar handphonenya.
Ekspresi
wajahnya begitu gelisah. Harapannya hanya satu, kekasih yang ia tunggu segera
tiba menemuinya. Satu jam sudah Die menunggu tanpa kabar.
Rasa
cemas tiba – tiba melanda pikirannya, ia membayangkan hal buruk terjadi pada
Sion kekasihnya. Sikap apa yang harus Die lakukan apa ia tetap harus bertahan
dikursi itu? Atau pergi mengunjungi rumah sion? Semua itu semakin membuat Die
khawatir.
Cappucino dingin favorit sion sudah berubah wujudnya. Hati
Die semakin gundah.
“Die,
maaf aku telat”
Die
menoleh saat sebias suara sampai ke gendang telingnya dengan suara yang cukup
berat.
Sion. Akhirnya orang yang sangat Die
tunggu sampai kehadapannya dengan keadaan yang seperti biasa, baik saja. Sion
langsung menarik kursi untuk ia segera bergegas duduk di hadapan Die. Mereka
hanya saling menatap. Terlihat dari mata Die ia bertanya – tanya apa yang
terjadi pada kekasihnya kenapa ia tak seperti biasanya? Mata Sionpun terlihat
sedang menyembunyikan suatu rahasia pada kekasihnya.
“setidaknya
aku jauh lebih tenang” kata Die dengan suara lembutnya memecahkan suasana yang
sedari tadi terkesan lebih tegang.
“maaf yah
Die aku telat, aku juga tak bisa menghubungimu tadi..” jelas sion merasa tak
enak dengan die.
“darimana
saja? Cappuccino mu sudah menunggu sampai ia lelah dan bahkan es batu yang
berada dalam gelas cappuccino mu sudah tak berani bertahan. Minumlah cappuccino
mu atau aku perlu pesankan cappuccino baru buat kamu?” tawar Die penuh
perhatian.
“biar aku
minum ini” setelah sion menghabiskan segelas cappuccino dinginnya ia
segera mengajak Die pergi ke tempat
lain.
Sion
berdiri meninggalkan kursinya dan segera mengajak Die keluar dari café dengan
menggandeng tangannya.
“mau
kemana?” Tanya die penuh rasa khawatir.
Sion
hanya terdiam dan terus menggandeng tangan kekasihnya sampai ke tempat yang
sion tuju. Mereka duduk di bangku-bangku yang disediakan pihak kafe di atas
gedung kafe itu.
Tetap
sama, tak ada yang berinisiatif untuk memulai berbicara. Suasana malam yang
seharusnya indah dengan rembulan sempurna terasa menjadi suasana asing untuk
die.
“Seharusnya
sion sudah memulai pembicaraan ini, katanya sebelum kami bertemu ada yang ingin
ia sampaikan? Tapi mengapa suasana di sini sangat membisu”. Ucap Die dalam
hatinya.
Mereka
duduk bersebelahan layaknya sepasang kekasih tapi merekapun terlihat seperti
orang yang tak saling kenal karena saling membisu.
Tetapi
tidak, setelah sepuluh menit keadaan masih sama. Sion tidak mengatakan apapun,
tidak melakukan apapun. Matanya memandang ke tempat lain selain Die. Mereka
saling tersiksa karena bisu yang mereka buat sendiri.
Die
terlihat tak berani merusak hening yang mereka ciptakan, hanya menatap jutaan
lampu di gedung yang menjadi pemandangan indah diatas sana, suasana perlahan
semakin mendatangkan cahaya pijar malam. Malam semakin merangkak naik.
Die ingin
sekali bertanya, tetapi entah kenapa, ia memilih untuk menutup mulut.
Seolah-olah rohnya masih tertinggal di café bawah tadi.
Sion
memang sudah bersikap aneh sejak siang tadi, sejak ia menghubungi die untuk
bertemu malam ini.
“apa kamu
tak ingin bertanya?” kata sion memecahkan suara dengan suara beratnya.
“apa?”
ucap polos Die.
“sikap
ku?” tetap tak memandang wajah die. “ada apa?” die memang terlihat sangat
polos.
“aku akan
pergi melanjutkan pendidikanku ke belanda” ujar sion.
“apa itu
harus? Bagaimana dengan kita?” ujar die.
Sion pun
mulai berani menatap mata kekasihnya itu. “itu yang ingin aku bicarakan,
sepertinya aku tak akan bisa bertahan karena aku tau kamu ngga pernah suka
dengan hubungan berjarak bukan?”
“iya
memang, terus bagaimana?” Ucap die mendesak.
“aku ngga
akan tega ngebiarin kamu sedih nunggu aku disini. Empat tahun die, akan terasa
lama kalau kamu harus nunggu aku pulang.” Ujarnya sambil mengusap air mata yang
tiba-tiba menetes dari kelopak mata kekasihnya.
“kita
putus?” ujar die.
“sepertinya
memang harus seperti itu die. biar kamu bisa mendapat orang lain yang selalu
bisa ngejagain kamu disini, aku ngga mau kamu sedih karena keadaan kita”
jelasnya.
“baiklah,
bisa kita pulang sekarang? Aku ingin turun dari atas sini. Kamu tahukan aku
benci ketinggian? Tapi apa kamu tahu mengapa aku berani disini? Itu semua
karena kamu sion” jelas die.
“maafin
aku die..”
“kita
pulang aja ya? Aku rindu rumahku” ajak die.
“Sebenarnya
aku merasa tak ada yang salah dengan hubungan ini jika harus dilanjutkan die.
Kecuali kamu memang tak terima aku tinggal di Belanda, dan kamu di Malang
memang intensitas pertemuan kita akan kurang, tapi menurutku komunikasi yang
terjalin di antara kita akan terus baik.” Jelas sion meyakinkan die.
“Entahlah,
aku hanya merasa ada sesuatu yang salah jika kita harus memiliki jarak yang
sangat jauh. Aku memang mencintaimu, itu pasti. Tetapi ini akan mengganggu pikiranku
tentang hubungan kita jika jarak itu akan ada.”
“tapi aku
akan pergi untuk kembali padamu, aku akan menjadi orang mapan untuk melamar
kamu untuk ngebahagiain kamu sesuai dengan cita-cita kita, apa kamu lupa?” sion
terus menjelaskan.
“sudahlah”
ujar die.
Die
memang orang yang keras jika ia tak suka selamanya ia tak akan pernah suka dan
apa yang ia suka harus dapat ia wujudkan, dan jika gagal artinya memang tak
pantas dan harus dia tinggal.
“tapi
nanti aku akan kembali ke Indonesia bekerja dan kemudian menjadi suamimu. Sudah
sepantasnya, akulah yang harus memenuhi semua kebutuhanmu. Sementara, gaya
hidupmu begitu kelas satu. Aku tak mampu jika aku harus terus seperti ini.”
“kita
masih terlalu muda untuk membahas keseriusan ini, jangan memaksa. Aku memang
masih mencintaimu tapi aku benci jarak, setelah lulus sma ini aku akan
melanjutkan pendidikan ku di bandung, banyak universitas baik disana, kita
memang tak sama jadi tak perlu di paksakan pemikiran kita sudah mulai berbeda
sion..”
“jika mau
kamu terus seperti itu baiklah, aku terima. Tapi aku berjanji akan berjuang
untukmu..”
Mereka
berdua turun dari atas gedung sana. Hubungan mereka benar-benar berakhir sampai
disini, mereka mungkin memang sama cappuccino tapi mereka adalah dua hal sama
yang tak bisa di persatukan.
Hubungan
mereka kini tinggal kenangan. Berlarian di benak mereka. Permintaan sion untuk
mempertimbangkan hubungan ini membuatnya merasa kecewa.
Dalam
hatinya Sion berjanji akan kembali untuk memperjuangkan cintanya walapun
katanya cinta sanggup menjaga namun faktanya justru keresahan yang saling
merajai fikiran mereka, sekarang ini.
Pergilah..
Otak Die
masih coba menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada dirinya, menebak pula apa
yang akan terjadi padanya setelah sion pergi nanti.
Die duduk
di sebelah jendela kamarnya sembari memandang langit yang terang benerang.
Tiba-tiba
handphonenya bordering. Ternyata itu sion. “hallo, die?” sapanya.
“iya ada
apa lagi ya?”
“bisa
bertemu sekarang? Nanti aku jemput, ada yang harus aku bicarakan..”
“baiklah”
“satu jam
lagi aku ke rumahmu”
Suara
telponnya berhenti, die segera beranjak untuk segera bersiap-siap.
Hatinya
begitu gembira, namun ia tak pernah akan bisa menerima jika harus berjarak
dengan sion.
Sion tiba
dirumah die. Die merasa bahagia karena ia masih bertemu dengan sion, walapun
kini bukan kekasihnya lagi.
“kita mau
kemana?” Tanya die.
“kita ke Pulau Sempu die, bagaimana?”
“baiklah”
Mereka
sesegera mungkin mengakhiri percakapannya dan bergegas menuju Pulau Sempu,
tempat mereka menjadi sepasang kekasih.
Satu jam
kemudian mereka tiba, bergegas duduk, seperti biasa mereka hanya saling membisu
dan tak saling menatap.
“apa
kamu yakin dengan keputusan kamu die?” Tanya sion memecahkan suasana.
“bukannya
kamu juga menginginkan kita untuk berpisah? Sudahlah jangan menuntut aku seolah
– olah ini hanya kemauan ku” jelas die.
“iya die
tapikan apa..” belum selesai sion menjelaskan die langsung memotong.
“aku
yakin kok, toh memang kita udah ngga bisa bersatu lagi. Buat apa dipaksain?
Kamu bakal hidup di Belanda, dan aku akan hidup di bandung.” Jelas Die.
“apa
kamu udah ngga sayang sama aku die?” Tanya sion dengan rasa cemas.
Die
hanya terdiam dan berpura – pura tak mendengar apa yang sion bicarakan. Rasa
sayang mereka memang masih ada, namun die tetap keras menolak hubungan jarak
jauh ini.
Menurut
die cinta ya harus saling mengisi dan bertegur sapa untuk saling menatap bukan
hanya saling berbicara melalui handphone, apalagi jika melalui tulisan di sosial
media.
“jujur
aku ngga pernah tau kenapa kamu benci hubungan jarak jauh die”
“karena
kamu memang belum ngertiin aku”
“Die,
dua tahun sudah kita ngejalin hubungan ini, kenapa harus hancur dalam hitungan
menit? Bukankah kita juga masih saling sayang die? Bukannya kamu kemarin sangat
menghawatirkan aku saat aku datang terlambat ke café die?”
“iya aku
memang khawatir, dan kamu harusnya tau itu, apa kamu bisa bayangin gimana
perasaan aku, fikiran aku setiap hari kalau kita tetap ngejalin hubungan yang
berjarak ini? Aku akan terus khawatir, hidup ku tak akan tenang selama empat
tahun nanti, kamu harusnya ngerti itu, sion”
Die
menjelaskan alasannya mengapa ia membenci hubungan jarak jauh ini, ia tak akan
sanggup. Die membayangkan hidupnya akan mengalir bagai air namun tak akan
pernah tenang bagai petir.
Ia
membenci hubungan jarak jauh ini bukan karena takut mantan kekasihnya itu tak
setia, karena die yakin mantan kekasihnya itu sosok pria yang dapat dipercaya.
“baiklah
die, aku tak akan memaksa. Tapi aku
harap kamu selalu ingat kenangan kita, kamu selalu ingat tempat inikan?”
Rupanya sion berusaha untuk kembali ke
suasana masa lalu mereka, agar die tetap mau mempertahankan hubungan mereka.
Dua tahun yang lalu memang tempat itu
jadi saksi bisu hubungan mereka terjalin, dan sekarang tempat ini akan kembali
menjadi saksi bisu hubungan mereka berakhir.
“kamu tenang aja aku ngga akan melupakan
kenangan kita kok, lebih baik kamu fokus untuk masa depan kamu, kamu lupain
usaha kamu buat kembali bersama ku, karena aku tak akan mau untuk itu” paksa
die.
“apa selamanya akan seperti itu die?”
“mungkin semua itu bisa berubah, namun
setelah kamu siap berada di dekat ku kembali, bukannya aku tak pernah suka
dengan pendidikan yang kamu dapat, namun aku tak pernah suka dengan hubungan
seperti ini. Kalaupun awalnya aku yang mendapat pendidikan ke belanda akupun
akan melakukan hal yang sama seperti keadaan kita saat ini” jelas panjang die.
Setelah ujian kemarin die dan sion memang
saling berebut untuk mendapat pendidikan di belanda, namun die gagal, gagal
bukan karena ia kurang pintar, namun ia memang sengaja mengalah, karena jurusan
yang akan ia dapat di belanda adalah manajemen, sedangkan die selalu berusaha
untuk menjadi seorang desainer, seperti mimpinya saat ia masih kanak – kanak
dulu.
“minggu depan aku udah berangkat ke
belanda, aku harap satu minggu kedepan masih terus bisa sharing sama kamu die,
masih terus bisa jagain kamu walaupun aku sekarang cuman sahabat kamu.” Pinta
sion.
Die mengiyakan permintaan sion dengan
menganggukan kepalanya dan melempar senyuman kecil, karena terlihat jelas dari
raut wajah die kalau dia memang masih sangat menyayangi sion, namun die tetaplah
die, apa yang sudah menjadi prinsipnya ia pasti akan terus jalani.
“sion, kamu sukses ya disana aku bakal
terus dukung kamu, aku pengin kamu jadi orang sukses pada saat kamu pulang
nanti,” pesannya pada sion.
Sion hanya tersenyum lembut karena ia
merasa mendapat semangat baru untuk kehidupan barunya nanti disana.
“kapan kamu berangkat ke bandung die?”
Tanya sion.
“dua minggu lagi.” Jawabnya singkat.
“kamu sukses ya disana die, die kamu
maukan saat aku akan berangkat nanti nganter aku ke bandara, seperti saat kamu
nganter aku pas aku mau lomba di Jakarta. Kamu ingetkan?”
Die berdiam sesaat, ia berusaha menutupi
kesedihannya. Raut wajahnya terus menunjukkan kepura-puraan bahwa ia sudah siap
untuk tidak lagi berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.
“iya akan ku usahakan” senyum die pada
sion.
Langitpun terasa mengisi suasana die dan
sion, suasana senja mulai semakin terasa, mereka berdua bergegas pulang
meninggalkan tempat kenangan mereka.
Namun seperti biasa, sebelum mereka
meninggalkan tempat ini, mereka selalu menulis di secarik kertas apa harapan
mereka untuk kedepannya.
Hari ini sion yang menyiapkan secarik
kertas itu karena ia tak yakin bahwa die akan membawa secarik kertas, karena
sion tak memberitahu pada die kemana mereka akan pergi tadi.
“Ini die aku udah nyiapin kertas buat
wish kita” sambil memberikan secarik kertas itu pada die.
“harus selalu seperti ini?” Tanya die
seperti ingin menutup kenangan mereka.
“Aku mohon..”
“baiklah,”
ujar die.
Mereka
berdua mulai mengisi secarik kertas itu. Fokus terhadap kertas masing-masing
dan die meneteskan air mata saat menggoreskan tinta di kertas tersebut, namun sion
berpura-pura tak melihat apa yang die lakukan, karena iya tau die sedang
menutupi perasaannya.
“aku
harap suatu saat nanti ketika aku menjadi orang sukses kita akan kembali
bersatu die, rasanya aku memang sangat membutuhkan mu, karena aku benar-benar
mencintaimu.”
Sepenggal
tulisan sion memang sangat menyimpan harapan besar, berbeda dengan tulisan die.
Setelah
ia selesai menulis, ia terus memandangi mantan kekasihnya, dalam hatinya berdoa
agar die menuliskan harapan yang sama seperti harapannya.
“pergilah,
kini aku telah rela untuk melihatmu bahagia, aku berjanji tak akan menangisi
kepergianmu, walaupun aku masih sangat menyayangi mu dan berharap kamu selalu
ada djsjni, namun aku tahu, kini kita berbeda. Dan kita akan menjadi aku dan
kamu seperti dulu, bahagialah kamu, akupun akan terus bahagia disini”
Mereka
berdua segera memendam kertas itu pada tanah yang baru saja di gali.
Die sudah siap untuk menjauh dari
kehidupan sion, berbeda dengan sion. Ia masih berharap besar untuk kembali
menjadi kita bersama die.
“Pergilah sion. Kamu disana akan menjadi
orang yang sangat sukses, dan aku bangga untuk itu”
Sion
sudah menebak die akan berkata begitu, dengan nada yang sama seperti biasa.
Sebenarnya, dalam hati sion pun tahu itu adalah jawaban yang benar, tapi dia masih
menyimpan secercah keraguan jika harus melepas die.
Merekapun segera beranjak pulang setelah
membuat kenangan baru di tempat favorit mereka, walaupun kini mereka bukan lagi
kita.
Kehangatan
yang sejak lama mereka nikmati dalam lingkup kisah cinta mereka, berusaha
selalu terjaga keutuhannya, tak disangka tembok kokoh itu hancur begitu saja.
Hanya karena jarak, iya..jarak..
Rasanya Die ingin kembali ke hari-hari
kemarin disaat jarak tak memisahkan die dengan sion, namun tak mungkin.
Minggu ini minggu terakhir sion berada
di Malang, jumat nanti iya akan segera pergi untuk pendidikannya ke belanda.
Die ingat betul permintaan sion saat
mereka berada di Pulau Sempu, sion berharap die mengantarkannya.
Tapi berbeda dengan die, ia sudah
meyakinkan hatinya bahwa die tak akan menemui mantan kekasihnya itu. Ia tak
sanggup jika harus melihat kepergian orang yang masih ia sayang, die yakin
dengan dia tetap enjoy menjalani hidup ini die pasti akan dengan mudah
melupakan sion, iya die yakin itu.
Malam itu seperti biasa die duduk
disamping jendela kamarnya sembari menatap beribu bintang tak lupa secangkir
cappuccino hangat favoritnya.
Besok sion akan pergi ke belanda,
menempuh pendidikannya, sesuai dengan apa yang ia cita-citakan. Die tak tau
bagaimana dan apa yang harus ia lakukan.
Sebenarnya hatinya menolak atas
kepergian sion, namun iya bersikap untuk sedikit lebih dewasa, walaupun die
sadar bahwa sikapnya sekarang ini sangat tak dewasa.
“aku merindukanmu, sion” die menulis
pada secarik kertas yang kemudian ia tempelkan pada jendela kamarnya.
Ia merenungkan tentang keputusannya,
tiba-tiba handphonenya bordering tanda pesan masuk.
Ia segera menengok ke layar
handphonenya, ternyata sion yang mengirim sepenggal pesan pengingat untuknya.
“Malam Die, jangan lupa ya besok jam
Sembilan die, mau aku jemput atau kita ketemu di bandara?”
Die bingung, ia ingin menolak ajakan
sion namun tak mengerti apa yang harus ia katakan. Die tak sanggup jika harus
melepas kepergian sion esok, bagai burung yang kehilangan sayapnya.
Lima belas menit kemudian Die
memberanikan membalas pesan sion. Ia menolak dengan alasan yang memang tak
benar adanya.
“maaf ya, besok aku ngga bisa, aku besok
udah ada janji buat ngurusin pendidikanku di bandung nanti.”
Sebenarnya ia sangat terpaksa
melakukan ini, tiba-tiba air matanya menetes.
Die mencoba mendengarkan lagu
favoritnya dengan sion, dengan harapan mengurangi rasa rindunya pada sion.
Maafkan
aku yang selalu menyakitimu
Mengecewakanmu
dan meragukanmu
Tersadar
aku bila kamu yang terbaik
Terima
aku, mencintaiku apa adanya
Di antara beribu bintang
hanya kaulah yang paling
terang
Di antara beribu cinta
pilihanku hanya kau sayang
Takkan ada selain kamu dalam
segala keadaanku
Cuma kamu ya hanya kamu yang
selalu ada untukku
Maafkan aku yang selalu menyakitimu
Mengecewakanmu dan meragukanmu
Tersadar aku bila kamu yang
terbaik
Terima aku, mencintaiku apa
adanya
Di antara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang
Di antara beribu cinta
pilihanku hanya kau sayang
Takkan ada selain kamu dalam
segala keadaanku
Cuma kamu ya hanya kamu yang
selalu ada untukku
Die kembali
meneteskan air matanya, ia sangat merindukan sion, entah harus menyebut pacar
atau mantan pacar, sekarang diam-diam die sangat mengharapkan sion membalas
balasan pesannya.
Setengah jam,
sion tetap tak membalas, sepertinya sion pun ingin berusaha lebih kuat seperti
apa yang die rasakan.
Lelah menunggu
ia akhirnya tertidur di ranjang kamarnya sembari memeluk sebuah bingkai foto,
foto ia dengan sion. Die pun terlelap dalam tidurnya.
Die terlihat
membuka korden dan jendela kamarnya ketika matahari mulai memancarkan sinarnya
di pagi hari. Kemudian duduk ia di samping jendela sembari tetap memandang
fotonya dengan sion.
Cukup lama ia disana hingga sinar matahari sedikit demi
sedikit memperjelas wajahnya dengan matanya yang menjadi membesar karena
terlalu lama menangis. Menghilangkan begitu banyak keindahan pagi ini.
“tok..tok..tok,
die? Ini gue niar” terdengar suara dari balik pintu kamarnya.
“masuk
aja ni ngga gue kunci kok”
Niar
segera mungkin menghampiri sahabatnya itu yang sedang termenung memperlihatkan
wajahnya yang galau tak karuan.
“die, lo
kenapa kok belum mandi? Hari ini sion kan bakal terbang ke belanda die? Gue aja
sengaja dateng ke lo pagi-pagi gini biar nanti lo ga telat die”
“bukan
masalah” jawab die singkat.
Niar
bingung apa yang terjadi pada sahabatnya itu, ia tak tau kalau sekarang die dan
sion bukan lagi menjadi sepasang kekasih.
“aku udah
putus” kata die seperti menjawab rasa penasaran niar sahabatnya.
“lo
serius? Terus lo ngga mau ke sion sekarang?”
“kemarin
aku udah nolak ajakan sion ni, aku ngga siap melihat dia pergi jauh, aku
memilih untuk tetap dirumah..”
“die!”
bentak niar sahabat die itu.
Niar tahu
kalau sahabatnya ingin pergi namun ia takut dan sudah terlanjur malu jika harus
menemui mantan kekasihnya itu.
“die,
sekarang kamu mandi aku bakalan nyiapin kostum biar kamu ga ketauan ada di
bandara. Aku tahu kamu pengin bangetkan liat sion untuk terakhir ini?” paksa
niar.
“baiklah”
jawabnya bergegas.
Die
percaya sahabatnya itu selalu dapat membantunya dalam masalah sebesar apapun,
sehingga die manut saat niar menyuruhnya untuk bergegas.
Niar
menyiapkan segala kostum yang sudah disiapkan demi sahabatnya, ia merobak-rabik
lemari pakaian die.
“die,
kenakan ini lekas kita cepat pergi”
Die
menuruti permintaan sahabatnya itu, setelah selesai berdandan mereka segera
keluar untuk lekas sampai di bandara.
“die?”
sapa mamah die. “kamu mau kemana? Kok?” mamah die terlihat bingung dengan
dandanan anak tunggalnya itu.
“maaf mah
die ceritanya nanti ya, die harus cepet pergi”
“Kamu
sarapan dulu, niar kamu juga sini sarapan dulu”
“nanti
kita sarapan di jalan aja mah”
“Assalamu’alaikum”
izin die dengan mencium telapak tangan mamahnya.
Mamah die
terlihat memasang raut wajah bingung dan cemas terhadap anaknya itu. Iya seperti
sedang berfikir keras apa yang sedang terjadi pada anaknya itu.
Sesampainya
mereka di bandara niar menemui sion kekasih die yang juga sahabatnya, namun die
tetap memandang dari kejauhan.
Ia
mengenakan kostum yang asing untuk dirinya. Mengenakan jaket panjang dengan
untaian jilbab, dengan kaca mata hitam dan topi yang baru ia beli tadi saat
menuju bandara.
Yang
terpenting untuk die saat ini ia masih bisa mendang orang yang masih ia sayang
walau dari kejauhan.
Die
memandang niar yang sedang bercakap tamah dengan sion, sebenarnya ia sangat
ingin bergabung dengan obrolan mereka, namun tak mungkin. Die melihat sion
memberikan amplop warna biru, entah itu apa.
Ia terus
memandang ke arah sion, die melihat sion mengambil handphonenya dan menyerahkan
pada niar.
Apa yang
mereka bicarakan? Kenapa seperti itu? Ada apa dengan mereka?
Sion
mengambil posisi dan sesegera niar memotret sion, wajahnya memang tak seceria
model untuk cover majalah, entah apa tujuan sion sebenarnya, niar mengembalikan
handphonenya pada sion.
Memandangi
sion dan niar, tiga menit kemudian handphone die bergetar. SION.
“ini fotoku di
bandara sekarang, sebentar lagi aku berangkat, bukan maksud ku untuk narsis
atau pamer tapi dengan foto itu aku harap kehadiran kamu die. benar kamu tak
bisa menumui aku die? Hanya sebentar saja, untuk salam perpisahan aku dan kamu
die. Aku masih menunggu kehadiran kamu disini. Diorita.”
Die
terdiam, ia meneteskan air matanya. Rasanya ingin sekali ia lari kearah sion
untuk menemuinya sebelum ia pergi lama, namun tak kuasa. Kini die menangis
sendiri sambil memandang sion.
Niar
sudah kembali berjalan ke arah die. Ia membawa amplop biru yang di berikan sion
tadi.
“lo bener
ngga mau nemuin sion die?” sambil memberikan amplop biru itu. “ambil lah, ini
titipan dari sion tadi”
Die tak
membalas ucapan sahabatnya itu, ia hanya menangis tersendu. Bergegas ia membuka
amplop itu, terdapat beberapa foto kenangan mereka sebelum hubungan mereka
berantakan seperti ini.
Terdapat
pula selembar kertas dari sion untuknya. Iya itu surat, surat terakhir dari
sion sebelum dia pergi ke belanda. Die
duduk disamping niar sahabatnya itu. Bergegas ia membaca surat dari sion.
Dear
die,
Die, mungkin saat kamu baca surat ini
aku udah ngga lagi ada di Indonesia, aku pun bukan lagi kekasih kamu die. Namun
aku percaya kamu masih sayangkan sama aku die? Mungkin kamu ngga mau mengakui
untuk hal itu, tapi aku percaya itu die, yang namanya cinta itu soal rasa, soal
hati, yang namanya cinta itu gaboleh setengah setengah ga bisa dibohongi.
Terima kasih untuk waktu yang pernah
kamu beri buat aku, aku bersyukur karena mengenal mu, apa lagi menjadi kekasih
kamu die. Aku akan terus berdoa buat kamu agar kamu selalu sukses di bandung
nanti, jaga diri kamu baik-baik yah die, maaf aku ngga bisa nemenin kamu kaya
dulu lagi. Aku udah ngga bisa ngejagain kamu, kita dekat tapi jauh, aku tak
lagi bisa menggemgam erat tanganmu.
Aku janji aku akan kembali pulang untuk
mempertahankan cinta kita die. Karena aku sayang kamu, tulus dari hatiku.
Aku tau die kamu juga masih sayang sama
aku, udah ya die jangan nangis terus jangan nangis lagi gara – gara surat ini.
Doain aku sukses ya, biar aku cepat
kembali dan nemenin kamu lagi. Aku sayang kamu, Diorita…
Salam rindu,
Sion Simarata
Die
semakin tersendu membaca surat dari sion, ia sadar bahwa sion memang sangat
menyayanginya namun die terlalu egois.
Niar merangkul sahabatnya dan
tersenyum lembut pada die.
“die, aku tahu kok kamu sedih banget
kan tapi kamu harus kuat ini pilihan kamu die, kamu ngga boleh lemah kaya gini
kamu semangat dong, kamu doain aja biar dia sukses disana toh dia janji akan
kembali buat kamukan?”
Die terus menangis tersendu, ia
memeluk niar sahabatnya. Mereka berdua pulang menuju rumah die.
Welcome
Bandung..
Satu
minggu setelah keberangkatan sion ke belanda kini giliran keberangkatan die
kebandung.
Ia tak
sendiri kesana, di temani ayah ibunya die membenahi kamar kosnya yang akan ia
huni untuk empat tahun ke depan.
Die tak
sendiri karena niar sahabatnya juga mengambil pendidikan yang sama di bandung
satu kos, satu kampus namun mereka berbeda fakultas, karena niar berada di
fakultas teknik informatika.
Ia sudah
cocok dengan tempat kos yang sekarang karena jaraknya tak terlalu jauh dari
kampusnya.
Suasananya
cukup ramai dan sepertinya komplek yang aman untuk tempat mereka hidup selama
di bandung.
Senin
nanti die dan niar sudah harus menjalankan ospek, segala hal mereka persiapkan
dengan baik.
“die udah
siap semuakan buat besok?” Tanya niar pada die.
“udah
kok. Kamu gimana? Udah siap semua?”
“udah
dong, tidur yuk biar besok kita ngga telat, kamu juga die udah yah ngga usah
sedih terus, toh nanti sion bakal kembali,” kata niar.
Die terus
memandangi fotonya bersama sion itu. Sejenak die terdiam. Die lembut berkata “aku
bakal lupain sion ni”
“die? Lo
yakin? Bukannya sion udah janji bakal
kembali?”
“aku ngga
yakin sion bakal kembali buat aku setelah dia sukses nanti, dia bakal jadi
orang hebat, mungkin sekarang memang dia berkata akan kembali, tapi nanti? Dia
pasti akan mendapatkan orang yang lebih baik dari aku ni” jelas die.
Die pun
meletakkan foto ia dengan sion pada meja di samping ranjangnya, menarik selimut
dan memejamkan mata.
Niar
terdiam dan bingung melihat keanehan yang terjadi pada sahabatnya itu.
“die..kasian
kamu” batinnya.
Niar
mengikuti jejak die untuk segera tidur, menarik selimut memejamkan mata tak
lupa ia mematikan lampu kamar mereka.
Suasana pagi bandung masih terasa
asing untuk dua orang sahabat itu. Bangun pagi lekas bersiap – siap. Hari ini
mereka akan merasakan ospek hari pertama, rasa cemas karena mendengar cerita –
cerita horor mengenai ospek masih terngiang – ngiang di otak.
Seperti biasa, setiap pagi die selalu
menikmati cappuccino hangat favoritnya. Mereka berdua sudah bersiap sedari pagi
padahal ospek dimulai jam 8 nanti.
Berbeda dengan niar, niar sangat
membenci cappuccino, dan dia sangat memfavoritekan vanilla late.
“Ni. Udah siap semua kan? Jangan sampe
kita telat yah, jangan lupa juga ya jangan sampe ada yang tertinggal loh” kata
die.
“udah deh lo tenang, ospek ngga se
horror cerita orang kok die, kata abang gue yang horror itu sebenarnya seniornya,
bukan ospeknya die”
“iya tapikan ni”
“udah deh lo tenang aja kalo nanti ada
senior yang rese sama lo, lo tinggal ngomong ke gue aja”
“tapi kan kita beda fakultas ni?”
Niar memang berbeda dengan die, sifat,
hobby dan keseharian mereka sangat berbeda. niar tak pernah merasa takut jika
iya merasa benar, bisa di bilang mentalnya lebih kuat ketimbang die.
Niar tak hidup bersama keluarga
sempurna seperti die, ia tercetak dari keluarga yang berantakan, bisa di bilang
broken home. Ayah ibunya bercerai saat niar masih duduk di bangku kelas 9 SMP,
satu minggu sebelum niar melaksanakan Ujian Nasional orang tuanya memberi
pernyataan kalau mereka akan berpisah, hatinya hancur berantakan, abang niar
saat itu duduk di bangku kelas 2 SMA, niar selalu berusaha tegar, abangnya
pergi kerumah kakeknya, memang niar perempuan berhati strong!
“Ni, berangkat yuk..” ajak die.
“berangkat? Masih jam setengah 8 loh
die, dari kos kita ke kampus cuman 5 menit loh die, inget kitakan ada motor
die..”
“niarrrrr”
“yaudah deh ayo kita berangkat adeku
sayang..”
Sifat niar kadang membuat die manja,
sifat dewasanya membuat die menganggap niar seorang kaka, maklum saja die anak
tunggal.
Senioritas
Sampai
mereka di kampus, suasana kampus memang sudah ramai, tapi ramai oleh para
mahasiswa baru yang super cupu.
“ya ampun ini kampus apa pasar die?
Rame banget”
“sawah teh” tiba – tiba ada cowo yang
menyauti omongan niar.
“apaan sih lo kenal kaga nyaut –
nyaut” kata niar sinis.
“yaudah kenalin aku rangga”
“oh.” Jawab Niar
“niar kamu ngga boleh gitu kita butuh
temen loh, kita belum punya satu temen pun disini” bisik die ke telinga niar.
Niar hanya terdiam sambil memandang
tajam ke arah cowo itu.
“emm, kok pakaian lo ngga kaya
mahasiswa yang lainnya?” Tanya niar sambil memandang aneh ke arah cowo itu.
Cowo itu tak menjawab namun ia tertawa
terbahak – bahak bagai melihat badut sedang melawak.
“kok kamu malah ketawa?” Tanya die
heran.
“lagian yah ngapain juga aku harus
pake baju kaya kalian berdua, aku tuh udah senior kalian, bukan mahasiswa
baru..hahaha”
Die dan niar saling menatap mereka
merasa bersalah apalagi niar ia benar – benar merasa bersalah karena sudah tak
sopan pada cowo itu, yang mengaku namanya rangga.
“emmm, ka rangga…” belum selesai niar
berbicara rangga langsung memotong ucapan niar.
“aku tau kamu mau minta maafkan? Haha.
Udahlah santai aja, aku tau kok kamu keselkan harus dandan kaya gitu? Ya
maklumin ajalah namanya juga ospek.”
Niar merasa beruntung karena ia
bertemu dengan senior yang baik hati, tak galak seperti singa yang terbangun
dari mimpi indahnya.
“oh iya, kamu mahasiswi fakultas apa?
Kok pakaian kamu beda sendiri disini?” Tanya rangga balik heran.
“aku mahasiswi teknik informatika ka,”
jawab niar.
“teknik informatika? Ngapain masih
disini, anak informatika itu selalu tepat waktu, aku saranin kamu jangan sampai
telat, gih sana” kata rangga membuat die dan niar takjub.
“oh iya kak, aku pergi dulu” ucap
niar.
“eh, siapa nama kamu?”
“niar ka,”
“kalau kamu?” menunjuk ke arah die.
“die.” Jawabnya singkat.
“oh iya niar, lain kali kamu hati –
hati sama ucapan kamu ya, jangan kaya tadi kamu ngatain ini fakultas kaya
pasar”
“emm iya kak maaf” jawabnya sambil
menundukkan kepala.
“kaka sendiri fakultas apa?” Tanya
die.
“desainer” jawabnya sambil tersenyum
geli.
“hah?” die dan niar lagi – lagi di
buat saling memandang.
“haha, ngga lah ngga mungkin aku masuk
desainer”
“sukurlah” kata niar dalam hati.
“terus anak apa ka?” Tanya niar
penasaran.
“anak ibu dong, hehe” rangga langsung
pergi meninggalkan dua gadis itu yang telah dibuatnya penasaran.
“die, itu cowo aneh banget deh, tapi
lucu juga ya” kata niar sambil tersenyum kecil.
“yaudah gih kamu sana pergi, aku juga
mau masuk dulu nanti takutnya malah telat” suruh die.
“yaudah aku pergi dulu ya, oh iya
nanti pas pulang ketemu di parkiran aja yah”
“oke bos” jawab die tegas.
“semangat!” niarpun pergi ke fakultas
teknik informatika.
“kamu yang paling belakang” gertak
senior itu ke arah niar.
“saya ka?” jawab die menunjuk kearah
dirinya sendiri.
“iya kamu, kenapa dari tau tengak
tengok dan ngga fokus memandang kearah depan?”
“emm, ngga kok ka” jawabnya ragu, ia merasa
bersalah karena sedari acara ospek dimulai niar memang selalu mencari
keberadaan rangga, rupanya ia jatuh cinta?
“kamu cepet maju kesini” perintah
senior lainnya.
Niar lekas ke depan menemui senior –
seniornya yang terlihat ganas, memang tak di permalukan tak seperti mahasiswa
yang mempunyai ke salahan seperti di film – film. Tapi ia mendapat hukuman.
“maaf kak, saya ngaku salah kok”
“apa yang kamu cari dari tadi?”
“emmm, ngga cari apa – apa kok ka”
“terus kenapa kamu tolah – toleh
terus?” saut senior lain.
“maaf ka..”
“bukan permasalahan maaf, tapi disini
kami ingin mengajarkan bagaimana kalian harus menghargai orang lain, kalian itu
anak informatika, ngga boleh seenaknya sendiri”
Niar tak menyangka ternyata seniornya
sosok – sosok yang baik hati.
“saya sadar saya salah ka, saya siap
mendapat sangsi kok ka”
“keren juga kamu berani gentle”
“ga susah hukuman buat kamu, kamu
cuman harus dateng ke ketua panita ospek terus minta maaf atas kesalahan kamu
dan satu lagi kamu kembali kesini kalau udah dapet tanda tangan dia.”
“ketua panitia ka?”
“Iya, jelas – jelas tadi udah di
jelasin kok siapa dia, kalau kamu tadi fokus ya tahu”
“udah sana lekas cari” suruh senior
lain yang terlihat cukup kiler.
Niar segera mencari ketua panitianya
yang entah dimana, bahkan siapa namanya pun dia tak tahu.
Berbeda dengan niar, die justru sedang
mengikuti kegiatan dengan hikmat, 85% anak desainer memang cewe, jadi
kegiatannya agak berbeda dengan anak informatika.
Niar berdoa bertemu dengan rangga
karena ia yakin rangga pasti mau bantuin niar. Namun tetap niar tak menemukan
sosok rangga, sampai akhirnya dia punya ide untuk melihat daftar panitia di
ruang panita.
Berjalan terus melangkah, setiap
langkahnya selalu di perhatikan para seniornya, mungkin para senior yang tak
tau sedang bingung kenapa ada satu mahasiswi yang sedang keliling padahal
mahasiswa – mahasiswi yang lain lagi berkumpul di aula.
Tibalah ia tepat di depan pintu ruang
panitia, diperhatikan satu – satu.
“ya ketemu!” ucapnya penuh semangat.
Nama yang berada paling atas, membuat
ia terkejut “KETUA PANITIA : RANGGA MAURERA”. Siapa dia? Apa cowo tadi pagi?
Die memberanikan diri mengetuk pintu
dan masuk ke dalam ruangan itu. Ramai memang, ia mendadak diam, tak ia lihat
sesosok laki – laki tadi pagi.
“Cari siapa kamu?” Tanya salah satu
senior disitu.
“maaf kak saya lagi cari ka rangga”
jawabnya.
“rangga?” jawab senior itu sambil
matanya mencari sesosok rangga.
“oh itu” ucapnya menunjuk ke sosok
yang baru saja membuka pintu ruangan ini.
Ya tepat, rangga yang niar maksud
memang benar, lelaki yang tadi pagi.
“kamu, ada apa?” Tanya rangga.
“maaf kak boleh ngomong sebentar” kata
niar memohon.
“yaudah di luar aja” ajak rangga.
Mereka berdua keluar dari ruangan itu,
niar menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya pada rangga yang telah ia anggap
senior berhati malaikat.
“lagian kamu ngapain tolah – toleh
terus?” Tanya rangga penasaran.
“emm tadi saya nyari kaka” jujurnya.
“aku? Mau apa?” rangga merasa heran.
“aku tadi masih penasaran kaka fakultas
apa..” jawabnya malu.
“sini kertas sama bolpoint kamu.”
“ini ka” sambil megulurkan tagannya.
Rangga segera menandatangani kertas
itu dan segera mengembalikkan pada niar.
“ini kertasnya udah gih cepet balik ke
aula, kamu ngga perlu minta maaf kok aku juga bikin kamu salah”
“makasih ka” ucap niar sambil
tersenyum dan lekas lari kembali menuju aula.
Siapa
jatuh cinta?
Ospek telah berakhir, die dan niar
kini sudah jadi mahasiswi asli, rasa bangga tertanaman pada diri mereka.
Ospek ini memang melukiskan banyak
cerita indah pada die dan niar, sekarang mereka udah ngga berdua lagi di
bandung, udah punya banyak temen baru dari berbagai daerah, bahkan sudah jatuh
cinta.
Siapa jatuh cinta? Masa secepat itu,
die? Bukan, kali ini niar ia merasa tertarik pada seniornya itu, rangga.
Ternyata rangga juga anak teknik informatika asli bandung.
Baru kali ini niar merasakan jatuh
cinta. Tapi die, die juga merasa tertarik dengan rangga, namun hanya
ketertarikan biasa saja.
Die dan niar merasa enjoy menjalani
kehidupannya di bandung, bukan hanya menjadi mahasiswi biasa, keaktifan mereka
di organisasi masih terus berlanjut, kali ini mereka berdua sama-sama menjadi
anggota pencinta alam, mereka menyebutnya backpacker kuliahan. Mereka anak dari
Kota Malang yang suasananya begitu indah bertemu dengan kota Bandung, ya
rasanya tak pergi dari kota sendiri.
Hari terus berlanjut die sedikit demi
sedikit mulai melupakan sosok sion, walaupun susah melupakan sepenuhnya. Ia
kini mempunyai beberapa teman laki-laki, tapi rasanya die jatuh cinta pada
orang yang sama dengan niar.
Memang kini rangga, niar dan die
sering jalan dan nongkrong bareng, malam itu malam minggu dan awal bulan,
dimana anak kos-an masih punya banyak uang kertas di dompet, mereka bertiga
sama-sama penggila coffe, dan mereka bersantai di kedai coffe yang tak jauh
dari posisi gedung sate.
“kalian berduka suka coffe? Kalaupun
tidak tenang aja disini emang kedai coffe tapi banyak minuman selain coffe juga
kok” kata rangga sangat megenal kedai ini.
“kaka tenang aja, kita berdua itu
penggila coffe” jawab niar semangat.
“ayo masuk kita duduk di bangku pojok
dekat jendela itu ya” ajak rangga.
Mereka terus berjalan, rangga selalu
menyapa karyawan yang berada disana, terlihat sudah sangat dekat dengan mereka.
Mereka
bertiga duduk di tempat pilihan rangga. Daftar menu datang menyambut kehadiran
mereka.
“sehat bro? lama ngga keliatan?” ucap
pelayan coffe itu pada rangga.
“iyanih lagi sibuk”
“wah tumben nih bawa cewe, dua pula”
“oh iya ini junior ku di kampus, ini
niar dan ini die” ucapnya sambil menunjuk kearah dua gadis penggila coffe itu.
“aku dion, salam kenal, selamat
bergabung menjadi pelanggan kami” ucap pelayan itu sambil meninggalkan meja
pojokan itu.
“kamu suka coffe apa ni?” Tanya rangga
sambil menulis cappuccino hangat favoritnya.
“Kalau akusih suka semua coffe asal
jangan cappuccino aja. Aku pesen vanilla late ya ka” kata niar.
“loh emang kenapa dengan cappuccino?”
“ngga suka aja ka”
“niar memang sudah sejak dulu ngga
pernah suka cappuccino, berbanding terbalik dengan ku, aku justru sangat
menyukai cappuccino” sambung die yang merasa di cueki.
“oh ya? Sama dong, aku juga ngga
pernah suka vanilla late”
Rangga kembali memanggil dion pelayan
coffe.
“bro” ucapnya.
Dion kembali mendekat dan menanyakan
apa pesanan langganannya itu. Walaupun dion sudah menebak pesanan rangga namun
kali ini ada dua orang baru yang belum ia kenal sama sekali.
“cappuccino dua sama vanilla late
satu” pesan rangga.
“oke siap bos!” kata dion.
Sambil menunggu pesanan mereka datang
mereka berbincang – bincang, wajah mereka sangat lepas malam ini, raut wajah
die berbeda sendiri saat itu, selain merasa di cueki, die juga mulai memikirkan
sion, apakah sion melakukan hal yang sama di belanda? Bersama perempuan
belanda? Fikiran die selalu tertuju pada sion.
“die. Kamu kenapa?” Tanya rangga.
Die tetap terdiam dan tak menjawab, ia
melamun.
“die” panggil niar sambil mencubit
tangan die.
“aduh, sakit tau ngga. Kenapa sih
kamu?” die marah – marah tak jelas.
“duh die, kamu yang kenapa? Dari tadi terus
melamun, kamu sakit?”
bersambung ...

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda