Senin, 01 Desember 2014

aku mau berbagi cuplikan novel karya afidah khairina :D baca di jamin gak pake nyesel kok..ini kisah nyata yang disimpangin dikit biar lebih dramatis katanya :D



Kelulusan
         
Hari ini momen yang sangat di tunggu semua pelajar kelas XII. Mulai dari acara wisuda bahkan pengumuman penerima beasiswa pendidikan luar negeri.
          Semua murid datang dengan penampilan yang sangat sempurna, termasuk die. Die adalah gadis yang membenci make up dan dandan, katanya itu bisa merusak wajahnya yang masih alami. Tapi tidak dengan hari ini, hari ini die berpenampilan sangat sempurna.
          Semua mata tertuju pada die saat ia berjalan di karpet merah, ia begitu anggun dan berpenampilan tak seperti biasanya.
          Saat ia akan duduk di tempatnya, seorang pria menarikan kursi untuk dirinya hingga membuat die terkejut.
          “duduklah, kamu cantik hari ini” kata sion.
          “makasih” jawab die sambil memberi senyum ringan.
          Sion pacar die sudah hampir tiga tahun, namun akhir – akhir ini hubungan mereka tak seindah tahun – tahun sebelumnya, akan banyak kenyataan pahit yang akan di alami oleh mereka berdua.          “nikmati harimu, princess” ucap sion dan segera meninggalkan die.
          Die hanya tertawa ringan melihat tingkah pacarnya itu, die menebak – nebak mungkin hari ini akan banyak kenangan lain untuk dirinya dan teman – temannya.
          Semua murid duduk di kursi wisudanya masing – masing, tempat duduk die dan sion tak begitu berjarak, mereka masih mudah untuk saling mencuri pandang menatap dan melempar senyum.
          Acara di mulai, semua mata tertuju pada pembawa acara. Satu demi satu murid di panggil untuk di wisuda.
          Wisuda di mulai dari peringkat pertama. Semua murid berdebar menunggu pengumuman ini.
          “dan tiba saatnya, murid wisuda pertama adalah…” suara pembawa acara itu semakin memperkuat rasa penasaran murid – murid disana.
          Ya, akhirnya di sebut juga, nama itu, nama sang juara “SIONSIMARATA” namanya dipanggil lagi die, rupanya kali ini die kalah. Biasanya die selalu menjadi peringkat pertama.
          Sion segera berdiri dari tempat duduknya, berjalan menuju arah kepala sekolah. Ia di wisuda pertama, sesuai impiannya. Acara wisuda terus berlanjut, nama DIORITA AURELIA menjadi wisuda yang ke tiga. Bukan masalah untuk die. Ia tetap bangga dengan dirinya.
          Sejak semester 6 nama die sudah menjadi kandidat beasiswa pendidikan manajem luar negeri, bukan hanya die, namun sion juga. Mereka berdua sama – sama berprestasi. Ada 7 kandidat beasiswa luar negeri, namun hanya akan ada satu nama yang berhasil.
          Acara wisuda yang menarik, sekarang saatnya hiburan – hiburan, dan setelah ini akan berlanjut pengumuman penerima beasiswa.
          Semua murid kelas XII hari ini terlihat sangat gembira, mereka sekarang resmi menjadi alumni, bukan lagi siswa di SMA Bintang Nusantara, sekolah yang cukup hebat di Malang.
          Pengumuman penerima beasiswa akan segera di cetuskan. Murid – murid mencoba menebak, tebakan mereka selalu saja sama, kalau bukan sion yang pergi pasti die, karena walaupun mereka mempunyai hubungan khusus mereka tetap professional di pendidikan mereka.
          Lagi – lagi sion menang hari ini. Penerima beasiswa itu sion, lagi – lagi die harus menjadi pengucap selamat pertama, namun kali ini die tak terlalu bersedih, karena sebenarnya die tak terlalu mengharap menjadi mahasiswi manajemen, ia sangat ingin menjadi mahasiswa desainer.
          Acara foto – foto dimulai, mereka akan membuat kenangan indah hari ini.
          “selamat ya, hari ini kamu menang banyak” ucap die pada sion.
          “justru kamu pemenangnya,” jawabnya.
          “jelas – jelas kamu pemenang di antara kita, kamu memang hebat”
          “kamu lebih hebat die” sion tersenyum memandangi pacarnya itu.
          “ah bercanda mu terkesan mengejek ku hari ini” jawab die sedikit ketus.
          “tak sedikitpun maksud meledek, tapi hari ini kamu memang pemenang die, kamu hebat bisa mencuri pandangan ku sedari pagi tadi, bahkan saat namaku di panggil beberapa kali aku tetap tak sadar karena memandangi kecantikanmu”
          Die adalah gadis yang tak bisa di puji, ia akan menampakkan wajah malu imutnya jika di puji oleh orang yang ia sayang.
          Mereka berdua duduk di taman setelah acara wisuda sudah benar – benar kelar.
          “ada yang mau aku tanyakan” kata die.
          “jujur aku tak ingin suasana hari ini hancur, bisa kita bahas nanti saja?” jawab sion,
          “kamu tau apa yang akan aku bahas?” ucap die menoleh kearah sion.
          “aku sangat paham, kita sering membicarakan hal ini sejak dulukan?” Tanya sion memandang die.
          Die hanya terdiam dan segera memindahkan pandangannya. Suasana tiba – tiba hening di antara mereka. Padahal teman – teman lainnya masih juga belum pulang karena masih ingin merayakan kebahagian mereka.
          Beberapa teman menghampiri die dan sion.
          “selamat ya, kalian pasangan hebat”
          Die dan sion memberi senyuman pada teman – temannya sebagai ucapan terima kasih.
          “tapi kenapa kalian terlihat panas?” kata niar. “kalian berdua lagi ngga berantem di tengah kebahagiaan ini kan?” sambungnya lagi.
          “ah ngga kok, ayo kita bersenang – senang” kata sion bersemangat sambil menggandeng tangan die untuk menyusul ia berdiri.
          Sion dan die mulai bergabung dengan sahabat – sahabatnya, walaupun hati mereka tak sebahagia para sahabatnya.
          Senja sudah mulai datang. Sion, die dan beberapa temannya memutuskan pergi ke pantai untuk menikmati kebersamaan mereka hari ini.
          Senja terasa hangat untuk sion dan die, mungkin ini akan menjadi senja terindah terakhir kali untuk mereka berdua.
          “die, teruslah bahagia. Karena aku akan terus membahagiakanmu, walau nanti akan ada jarak di antara kita.” Sion menyadari, beasiswanya akan membuat ia dan die menjadi jauh.
          “kita memang dekat, tapi sebentar lagi kedekatan kita akan terasa jauh, kecuali kamu nanti akan kembali datang untuk menggenggamkan tanganku” jelas die.
          Suasana menjadi hening, mereka terlalu menikmati senja dan cappuccino instan yang di beli di super market tadi.
          “kamu tak perlu khawatir die, setiap liburan aku pasti akan pulang menemui kamu di Indonesia, aku tak akan menetap di belanda, jadi jangan pernah bersedih, aku akan kembali.”


Cappucino



Malam ini rembulan terlihat bulat sempurna. Namun Diorita – Die - hanya terdiam di pojok café sambil memegang secangkir cappucino hangat favoritnya. Ia berulang kali melihat kearah jendela dan layar handphonenya.
Ekspresi wajahnya begitu gelisah. Harapannya hanya satu, kekasih yang ia tunggu segera tiba menemuinya. Satu jam sudah Die menunggu tanpa kabar.
Rasa cemas tiba – tiba melanda pikirannya, ia membayangkan hal buruk terjadi pada Sion kekasihnya. Sikap apa yang harus Die lakukan apa ia tetap harus bertahan dikursi itu? Atau pergi mengunjungi rumah sion? Semua itu semakin membuat Die khawatir.
Cappucino dingin favorit sion sudah berubah wujudnya. Hati Die semakin gundah.


“Die, maaf aku telat”
Die menoleh saat sebias suara sampai ke gendang telingnya dengan suara yang cukup berat.
Sion. Akhirnya orang yang sangat Die tunggu sampai kehadapannya dengan keadaan yang seperti biasa, baik saja. Sion langsung menarik kursi untuk ia segera bergegas duduk di hadapan Die. Mereka hanya saling menatap. Terlihat dari mata Die ia bertanya – tanya apa yang terjadi pada kekasihnya kenapa ia tak seperti biasanya? Mata Sionpun terlihat sedang menyembunyikan suatu rahasia pada kekasihnya.
“setidaknya aku jauh lebih tenang” kata Die dengan suara lembutnya memecahkan suasana yang sedari tadi terkesan lebih tegang.
“maaf yah Die aku telat, aku juga tak bisa menghubungimu tadi..” jelas sion merasa tak enak dengan die.
“darimana saja? Cappuccino mu sudah menunggu sampai ia lelah dan bahkan es batu yang berada dalam gelas cappuccino mu sudah tak berani bertahan. Minumlah cappuccino mu atau aku perlu pesankan cappuccino baru buat kamu?” tawar Die penuh perhatian.
“biar aku minum ini” setelah sion menghabiskan segelas cappuccino dinginnya ia segera  mengajak Die pergi ke tempat lain.
Sion berdiri meninggalkan kursinya dan segera mengajak Die keluar dari café dengan menggandeng tangannya.
“mau kemana?” Tanya die penuh rasa khawatir.
Sion hanya terdiam dan terus menggandeng tangan kekasihnya sampai ke tempat yang sion tuju. Mereka duduk di bangku-bangku yang disediakan pihak kafe di atas gedung kafe itu.
Tetap sama, tak ada yang berinisiatif untuk memulai berbicara. Suasana malam yang seharusnya indah dengan rembulan sempurna terasa menjadi suasana asing untuk die.
“Seharusnya sion sudah memulai pembicaraan ini, katanya sebelum kami bertemu ada yang ingin ia sampaikan? Tapi mengapa suasana di sini sangat membisu”. Ucap Die dalam hatinya.
Mereka duduk bersebelahan layaknya sepasang kekasih tapi merekapun terlihat seperti orang yang tak saling kenal karena saling membisu.
Tetapi tidak, setelah sepuluh menit keadaan masih sama. Sion tidak mengatakan apapun, tidak melakukan apapun. Matanya memandang ke tempat lain selain Die. Mereka saling tersiksa karena bisu yang mereka buat sendiri.
Die terlihat tak berani merusak hening yang mereka ciptakan, hanya menatap jutaan lampu di gedung yang menjadi pemandangan indah diatas sana, suasana perlahan semakin mendatangkan cahaya pijar malam. Malam semakin merangkak naik.
Die ingin sekali bertanya, tetapi entah kenapa, ia memilih untuk menutup mulut. Seolah-olah rohnya masih tertinggal di café bawah tadi.
Sion memang sudah bersikap aneh sejak siang tadi, sejak ia menghubungi die untuk bertemu malam ini.
“apa kamu tak ingin bertanya?” kata sion memecahkan suara dengan suara beratnya.
“apa?” ucap polos Die.
“sikap ku?” tetap tak memandang wajah die. “ada apa?” die memang terlihat sangat polos.
“aku akan pergi melanjutkan pendidikanku ke belanda” ujar sion.
“apa itu harus? Bagaimana dengan kita?” ujar die.
Sion pun mulai berani menatap mata kekasihnya itu. “itu yang ingin aku bicarakan, sepertinya aku tak akan bisa bertahan karena aku tau kamu ngga pernah suka dengan hubungan berjarak bukan?”
“iya memang, terus bagaimana?” Ucap die mendesak.
“aku ngga akan tega ngebiarin kamu sedih nunggu aku disini. Empat tahun die, akan terasa lama kalau kamu harus nunggu aku pulang.” Ujarnya sambil mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari kelopak mata kekasihnya.
“kita putus?” ujar die.
“sepertinya memang harus seperti itu die. biar kamu bisa mendapat orang lain yang selalu bisa ngejagain kamu disini, aku ngga mau kamu sedih karena keadaan kita” jelasnya.
“baiklah, bisa kita pulang sekarang? Aku ingin turun dari atas sini. Kamu tahukan aku benci ketinggian? Tapi apa kamu tahu mengapa aku berani disini? Itu semua karena kamu sion” jelas die.
“maafin aku die..”
“kita pulang aja ya? Aku rindu rumahku” ajak die.
“Sebenarnya aku merasa tak ada yang salah dengan hubungan ini jika harus dilanjutkan die. Kecuali kamu memang tak terima aku tinggal di Belanda, dan kamu di Malang memang intensitas pertemuan kita akan kurang, tapi menurutku komunikasi yang terjalin di antara kita akan terus baik.” Jelas sion meyakinkan die.
“Entahlah, aku hanya merasa ada sesuatu yang salah jika kita harus memiliki jarak yang sangat jauh. Aku memang mencintaimu, itu pasti. Tetapi ini akan mengganggu pikiranku tentang hubungan kita jika jarak itu akan ada.”
“tapi aku akan pergi untuk kembali padamu, aku akan menjadi orang mapan untuk melamar kamu untuk ngebahagiain kamu sesuai dengan cita-cita kita, apa kamu lupa?” sion terus menjelaskan.
“sudahlah” ujar die.
Die memang orang yang keras jika ia tak suka selamanya ia tak akan pernah suka dan apa yang ia suka harus dapat ia wujudkan, dan jika gagal artinya memang tak pantas dan harus dia tinggal.
“tapi nanti aku akan kembali ke Indonesia bekerja dan kemudian menjadi suamimu. Sudah sepantasnya, akulah yang harus memenuhi semua kebutuhanmu. Sementara, gaya hidupmu begitu kelas satu. Aku tak mampu jika aku harus terus seperti ini.”
“kita masih terlalu muda untuk membahas keseriusan ini, jangan memaksa. Aku memang masih mencintaimu tapi aku benci jarak, setelah lulus sma ini aku akan melanjutkan pendidikan ku di bandung, banyak universitas baik disana, kita memang tak sama jadi tak perlu di paksakan pemikiran kita sudah mulai berbeda sion..”
“jika mau kamu terus seperti itu baiklah, aku terima. Tapi aku berjanji akan berjuang untukmu..”
Mereka berdua turun dari atas gedung sana. Hubungan mereka benar-benar berakhir sampai disini, mereka mungkin memang sama cappuccino tapi mereka adalah dua hal sama yang tak bisa di persatukan.
Hubungan mereka kini tinggal kenangan. Berlarian di benak mereka. Permintaan sion untuk mempertimbangkan hubungan ini membuatnya merasa kecewa.
Dalam hatinya Sion berjanji akan kembali untuk memperjuangkan cintanya walapun katanya cinta sanggup menjaga namun faktanya justru keresahan yang saling merajai fikiran mereka, sekarang ini.

                                            

       
       Pergilah..

Otak Die masih coba menebak-nebak apa yang sedang terjadi pada dirinya, menebak pula apa yang akan terjadi padanya setelah sion pergi nanti.
Die duduk di sebelah jendela kamarnya sembari memandang langit yang terang benerang.
Tiba-tiba handphonenya bordering. Ternyata itu sion. “hallo, die?” sapanya.
“iya ada apa lagi ya?”
“bisa bertemu sekarang? Nanti aku jemput, ada yang harus aku bicarakan..”
“baiklah”
“satu jam lagi aku ke rumahmu”
Suara telponnya berhenti, die segera beranjak untuk segera bersiap-siap.
Hatinya begitu gembira, namun ia tak pernah akan bisa menerima jika harus berjarak dengan sion.



Sion tiba dirumah die. Die merasa bahagia karena ia masih bertemu dengan sion, walapun kini bukan kekasihnya lagi.
“kita mau kemana?” Tanya die.
“kita ke Pulau Sempu die, bagaimana?”
“baiklah”
Mereka sesegera mungkin mengakhiri percakapannya dan bergegas menuju Pulau Sempu, tempat mereka menjadi sepasang kekasih.
Satu jam kemudian mereka tiba, bergegas duduk, seperti biasa mereka hanya saling membisu dan tak saling menatap.
“apa kamu yakin dengan keputusan kamu die?” Tanya sion memecahkan suasana.
“bukannya kamu juga menginginkan kita untuk berpisah? Sudahlah jangan menuntut aku seolah – olah ini hanya kemauan ku” jelas die.
“iya die tapikan apa..” belum selesai sion menjelaskan die langsung memotong.
“aku yakin kok, toh memang kita udah ngga bisa bersatu lagi. Buat apa dipaksain? Kamu bakal hidup di Belanda, dan aku akan hidup di bandung.” Jelas Die.
“apa kamu udah ngga sayang sama aku die?” Tanya sion dengan rasa cemas.
Die hanya terdiam dan berpura – pura tak mendengar apa yang sion bicarakan. Rasa sayang mereka memang masih ada, namun die tetap keras menolak hubungan jarak jauh ini.
Menurut die cinta ya harus saling mengisi dan bertegur sapa untuk saling menatap bukan hanya saling berbicara melalui handphone, apalagi jika melalui tulisan di sosial media.
“jujur aku ngga pernah tau kenapa kamu benci hubungan jarak jauh die”
“karena kamu memang belum ngertiin aku”
“Die, dua tahun sudah kita ngejalin hubungan ini, kenapa harus hancur dalam hitungan menit? Bukankah kita juga masih saling sayang die? Bukannya kamu kemarin sangat menghawatirkan aku saat aku datang terlambat ke café die?”
“iya aku memang khawatir, dan kamu harusnya tau itu, apa kamu bisa bayangin gimana perasaan aku, fikiran aku setiap hari kalau kita tetap ngejalin hubungan yang berjarak ini? Aku akan terus khawatir, hidup ku tak akan tenang selama empat tahun nanti, kamu harusnya ngerti itu, sion”
Die menjelaskan alasannya mengapa ia membenci hubungan jarak jauh ini, ia tak akan sanggup. Die membayangkan hidupnya akan mengalir bagai air namun tak akan pernah tenang bagai petir.
Ia membenci hubungan jarak jauh ini bukan karena takut mantan kekasihnya itu tak setia, karena die yakin mantan kekasihnya itu sosok pria yang dapat dipercaya.
“baiklah die, aku tak akan memaksa.  Tapi aku harap kamu selalu ingat kenangan kita, kamu selalu ingat tempat inikan?”
       Rupanya sion berusaha untuk kembali ke suasana masa lalu mereka, agar die tetap mau mempertahankan hubungan mereka.
       Dua tahun yang lalu memang tempat itu jadi saksi bisu hubungan mereka terjalin, dan sekarang tempat ini akan kembali menjadi saksi bisu hubungan mereka berakhir.
       “kamu tenang aja aku ngga akan melupakan kenangan kita kok, lebih baik kamu fokus untuk masa depan kamu, kamu lupain usaha kamu buat kembali bersama ku, karena aku tak akan mau untuk itu” paksa die.
       “apa selamanya akan seperti itu die?”
       “mungkin semua itu bisa berubah, namun setelah kamu siap berada di dekat ku kembali, bukannya aku tak pernah suka dengan pendidikan yang kamu dapat, namun aku tak pernah suka dengan hubungan seperti ini. Kalaupun awalnya aku yang mendapat pendidikan ke belanda akupun akan melakukan hal yang sama seperti keadaan kita saat ini” jelas panjang die.
       Setelah ujian kemarin die dan sion memang saling berebut untuk mendapat pendidikan di belanda, namun die gagal, gagal bukan karena ia kurang pintar, namun ia memang sengaja mengalah, karena jurusan yang akan ia dapat di belanda adalah manajemen, sedangkan die selalu berusaha untuk menjadi seorang desainer, seperti mimpinya saat ia masih kanak – kanak dulu.
       “minggu depan aku udah berangkat ke belanda, aku harap satu minggu kedepan masih terus bisa sharing sama kamu die, masih terus bisa jagain kamu walaupun aku sekarang cuman sahabat kamu.” Pinta sion.
       Die mengiyakan permintaan sion dengan menganggukan kepalanya dan melempar senyuman kecil, karena terlihat jelas dari raut wajah die kalau dia memang masih sangat menyayangi sion, namun die tetaplah die, apa yang sudah menjadi prinsipnya ia pasti akan terus jalani.
       “sion, kamu sukses ya disana aku bakal terus dukung kamu, aku pengin kamu jadi orang sukses pada saat kamu pulang nanti,” pesannya pada sion.
       Sion hanya tersenyum lembut karena ia merasa mendapat semangat baru untuk kehidupan barunya nanti disana.
       “kapan kamu berangkat ke bandung die?” Tanya sion.
       “dua minggu lagi.” Jawabnya singkat.
       “kamu sukses ya disana die, die kamu maukan saat aku akan berangkat nanti nganter aku ke bandara, seperti saat kamu nganter aku pas aku mau lomba di Jakarta. Kamu ingetkan?”
       Die berdiam sesaat, ia berusaha menutupi kesedihannya. Raut wajahnya terus menunjukkan kepura-puraan bahwa ia sudah siap untuk tidak lagi berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.
       “iya akan ku usahakan” senyum die pada sion.
       Langitpun terasa mengisi suasana die dan sion, suasana senja mulai semakin terasa, mereka berdua bergegas pulang meninggalkan tempat kenangan mereka.
       Namun seperti biasa, sebelum mereka meninggalkan tempat ini, mereka selalu menulis di secarik kertas apa harapan mereka untuk kedepannya.
       Hari ini sion yang menyiapkan secarik kertas itu karena ia tak yakin bahwa die akan membawa secarik kertas, karena sion tak memberitahu pada die kemana mereka akan pergi tadi.
       “Ini die aku udah nyiapin kertas buat wish kita” sambil memberikan secarik kertas itu pada die.
       “harus selalu seperti ini?” Tanya die seperti ingin menutup kenangan mereka.
       “Aku mohon..”
“baiklah,” ujar die.
Mereka berdua mulai mengisi secarik kertas itu. Fokus terhadap kertas masing-masing dan die meneteskan air mata saat menggoreskan tinta di kertas tersebut, namun sion berpura-pura tak melihat apa yang die lakukan, karena iya tau die sedang menutupi perasaannya.

“aku harap suatu saat nanti ketika aku menjadi orang sukses kita akan kembali bersatu die, rasanya aku memang sangat membutuhkan mu, karena aku benar-benar mencintaimu.”

Sepenggal tulisan sion memang sangat menyimpan harapan besar, berbeda dengan tulisan die.
Setelah ia selesai menulis, ia terus memandangi mantan kekasihnya, dalam hatinya berdoa agar die menuliskan harapan yang sama seperti harapannya.

“pergilah, kini aku telah rela untuk melihatmu bahagia, aku berjanji tak akan menangisi kepergianmu, walaupun aku masih sangat menyayangi mu dan berharap kamu selalu ada djsjni, namun aku tahu, kini kita berbeda. Dan kita akan menjadi aku dan kamu seperti dulu, bahagialah kamu, akupun akan terus bahagia disini”

          Mereka berdua segera memendam kertas itu pada tanah yang baru saja di gali.
       Die sudah siap untuk menjauh dari kehidupan sion, berbeda dengan sion. Ia masih berharap besar untuk kembali menjadi kita bersama die.
       “Pergilah sion. Kamu disana akan menjadi orang yang sangat sukses, dan aku bangga untuk itu”
Sion sudah menebak die akan berkata begitu, dengan nada yang sama seperti biasa. Sebenarnya, dalam hati sion pun tahu itu adalah jawaban yang benar, tapi dia masih menyimpan secercah keraguan jika harus melepas die.
       Merekapun segera beranjak pulang setelah membuat kenangan baru di tempat favorit mereka, walaupun kini mereka bukan lagi kita.
      



           Kehangatan yang sejak lama mereka nikmati dalam lingkup kisah cinta mereka, berusaha selalu terjaga keutuhannya, tak disangka tembok kokoh itu hancur begitu saja. Hanya karena jarak, iya..jarak..
          Rasanya Die ingin kembali ke hari-hari kemarin disaat jarak tak memisahkan die dengan sion, namun tak mungkin.



          Minggu ini minggu terakhir sion berada di Malang, jumat nanti iya akan segera pergi untuk pendidikannya ke belanda.
          Die ingat betul permintaan sion saat mereka berada di Pulau Sempu, sion berharap die mengantarkannya.
          Tapi berbeda dengan die, ia sudah meyakinkan hatinya bahwa die tak akan menemui mantan kekasihnya itu. Ia tak sanggup jika harus melihat kepergian orang yang masih ia sayang, die yakin dengan dia tetap enjoy menjalani hidup ini die pasti akan dengan mudah melupakan sion, iya die yakin itu.
          Malam itu seperti biasa die duduk disamping jendela kamarnya sembari menatap beribu bintang tak lupa secangkir cappuccino hangat favoritnya.
          Besok sion akan pergi ke belanda, menempuh pendidikannya, sesuai dengan apa yang ia cita-citakan. Die tak tau bagaimana dan apa yang harus ia lakukan.
          Sebenarnya hatinya menolak atas kepergian sion, namun iya bersikap untuk sedikit lebih dewasa, walaupun die sadar bahwa sikapnya sekarang ini sangat tak dewasa.
          “aku merindukanmu, sion” die menulis pada secarik kertas yang kemudian ia tempelkan pada jendela kamarnya.
          Ia merenungkan tentang keputusannya, tiba-tiba handphonenya bordering tanda pesan masuk.
          Ia segera menengok ke layar handphonenya, ternyata sion yang mengirim sepenggal pesan pengingat untuknya.
          “Malam Die, jangan lupa ya besok jam Sembilan die, mau aku jemput atau kita ketemu di bandara?”
          Die bingung, ia ingin menolak ajakan sion namun tak mengerti apa yang harus ia katakan. Die tak sanggup jika harus melepas kepergian sion esok, bagai burung yang kehilangan sayapnya.
          Lima belas menit kemudian Die memberanikan membalas pesan sion. Ia menolak dengan alasan yang memang tak benar adanya.
          “maaf ya, besok aku ngga bisa, aku besok udah ada janji buat ngurusin pendidikanku di bandung nanti.”
          Sebenarnya ia sangat terpaksa melakukan ini, tiba-tiba air matanya menetes.
          Die mencoba mendengarkan lagu favoritnya dengan sion, dengan harapan mengurangi rasa rindunya pada sion.

Maafkan aku yang selalu menyakitimu
Mengecewakanmu dan meragukanmu
Tersadar aku bila kamu yang terbaik
Terima aku, mencintaiku apa adanya

Di antara beribu bintang
hanya kaulah yang paling terang
Di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang
Takkan ada selain kamu dalam segala keadaanku
Cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untukku

Maafkan aku yang selalu menyakitimu
Mengecewakanmu dan meragukanmu
Tersadar aku bila kamu yang terbaik
Terima aku, mencintaiku apa adanya

Di antara beribu bintang hanya kaulah yang paling terang
Di antara beribu cinta pilihanku hanya kau sayang
Takkan ada selain kamu dalam segala keadaanku
Cuma kamu ya hanya kamu yang selalu ada untukku

          Die kembali meneteskan air matanya, ia sangat merindukan sion, entah harus menyebut pacar atau mantan pacar, sekarang diam-diam die sangat mengharapkan sion membalas balasan pesannya.
          Setengah jam, sion tetap tak membalas, sepertinya sion pun ingin berusaha lebih kuat seperti apa yang die rasakan.
          Lelah menunggu ia akhirnya tertidur di ranjang kamarnya sembari memeluk sebuah bingkai foto, foto ia dengan sion. Die pun terlelap dalam tidurnya.
         
           



          Die terlihat membuka korden dan jendela kamarnya ketika matahari mulai memancarkan sinarnya di pagi hari. Kemudian duduk ia di samping jendela sembari tetap memandang fotonya dengan sion.
Cukup lama ia disana hingga sinar matahari sedikit demi sedikit memperjelas wajahnya dengan matanya yang menjadi membesar karena terlalu lama menangis. Menghilangkan begitu banyak keindahan pagi ini.
“tok..tok..tok, die? Ini gue niar” terdengar suara dari balik pintu kamarnya.
“masuk aja ni ngga gue kunci kok”
Niar segera mungkin menghampiri sahabatnya itu yang sedang termenung memperlihatkan wajahnya yang galau tak karuan.
“die, lo kenapa kok belum mandi? Hari ini sion kan bakal terbang ke belanda die? Gue aja sengaja dateng ke lo pagi-pagi gini biar nanti lo ga telat die”
“bukan masalah” jawab die singkat.
Niar bingung apa yang terjadi pada sahabatnya itu, ia tak tau kalau sekarang die dan sion bukan lagi menjadi sepasang kekasih.
“aku udah putus” kata die seperti menjawab rasa penasaran niar sahabatnya.
“lo serius? Terus lo ngga mau ke sion sekarang?”
“kemarin aku udah nolak ajakan sion ni, aku ngga siap melihat dia pergi jauh, aku memilih untuk tetap dirumah..”
“die!” bentak niar sahabat die itu.
Niar tahu kalau sahabatnya ingin pergi namun ia takut dan sudah terlanjur malu jika harus menemui mantan kekasihnya itu.
“die, sekarang kamu mandi aku bakalan nyiapin kostum biar kamu ga ketauan ada di bandara. Aku tahu kamu pengin bangetkan liat sion untuk terakhir ini?” paksa niar.
“baiklah” jawabnya bergegas.
Die percaya sahabatnya itu selalu dapat membantunya dalam masalah sebesar apapun, sehingga die manut saat niar menyuruhnya untuk bergegas.
Niar menyiapkan segala kostum yang sudah disiapkan demi sahabatnya, ia merobak-rabik lemari pakaian die.
“die, kenakan ini lekas kita cepat pergi”
Die menuruti permintaan sahabatnya itu, setelah selesai berdandan mereka segera keluar untuk lekas sampai di bandara.
“die?” sapa mamah die. “kamu mau kemana? Kok?” mamah die terlihat bingung dengan dandanan anak tunggalnya itu.
“maaf mah die ceritanya nanti ya, die harus cepet pergi”
“Kamu sarapan dulu, niar kamu juga sini sarapan dulu”
“nanti kita sarapan di jalan aja mah”
“Assalamu’alaikum” izin die dengan mencium telapak tangan mamahnya.
Mamah die terlihat memasang raut wajah bingung dan cemas terhadap anaknya itu. Iya seperti sedang berfikir keras apa yang sedang terjadi pada anaknya itu.




Sesampainya mereka di bandara niar menemui sion kekasih die yang juga sahabatnya, namun die tetap memandang dari kejauhan.
Ia mengenakan kostum yang asing untuk dirinya. Mengenakan jaket panjang dengan untaian jilbab, dengan kaca mata hitam dan topi yang baru ia beli tadi saat menuju bandara.
Yang terpenting untuk die saat ini ia masih bisa mendang orang yang masih ia sayang walau dari kejauhan.
Die memandang niar yang sedang bercakap tamah dengan sion, sebenarnya ia sangat ingin bergabung dengan obrolan mereka, namun tak mungkin. Die melihat sion memberikan amplop warna biru, entah itu apa.
Ia terus memandang ke arah sion, die melihat sion mengambil handphonenya dan menyerahkan pada niar.
Apa yang mereka bicarakan? Kenapa seperti itu? Ada apa dengan mereka?
Sion mengambil posisi dan sesegera niar memotret sion, wajahnya memang tak seceria model untuk cover majalah, entah apa tujuan sion sebenarnya, niar mengembalikan handphonenya pada sion.
Memandangi sion dan niar, tiga menit kemudian handphone die bergetar. SION.
“ini fotoku di bandara sekarang, sebentar lagi aku berangkat, bukan maksud ku untuk narsis atau pamer tapi dengan foto itu aku harap kehadiran kamu die. benar kamu tak bisa menumui aku die? Hanya sebentar saja, untuk salam perpisahan aku dan kamu die. Aku masih menunggu kehadiran kamu disini. Diorita.”
Die terdiam, ia meneteskan air matanya. Rasanya ingin sekali ia lari kearah sion untuk menemuinya sebelum ia pergi lama, namun tak kuasa. Kini die menangis sendiri sambil memandang sion.
Niar sudah kembali berjalan ke arah die. Ia membawa amplop biru yang di berikan sion tadi.
“lo bener ngga mau nemuin sion die?” sambil memberikan amplop biru itu. “ambil lah, ini titipan dari sion tadi”
Die tak membalas ucapan sahabatnya itu, ia hanya menangis tersendu. Bergegas ia membuka amplop itu, terdapat beberapa foto kenangan mereka sebelum hubungan mereka berantakan seperti ini.
Terdapat pula selembar kertas dari sion untuknya. Iya itu surat, surat terakhir dari sion sebelum dia pergi ke belanda.  Die duduk disamping niar sahabatnya itu. Bergegas ia membaca surat dari sion.


Dear die,
        Die, mungkin saat kamu baca surat ini aku udah ngga lagi ada di Indonesia, aku pun bukan lagi kekasih kamu die. Namun aku percaya kamu masih sayangkan sama aku die? Mungkin kamu ngga mau mengakui untuk hal itu, tapi aku percaya itu die, yang namanya cinta itu soal rasa, soal hati, yang namanya cinta itu gaboleh setengah setengah ga bisa dibohongi.
        Terima kasih untuk waktu yang pernah kamu beri buat aku, aku bersyukur karena mengenal mu, apa lagi menjadi kekasih kamu die. Aku akan terus berdoa buat kamu agar kamu selalu sukses di bandung nanti, jaga diri kamu baik-baik yah die, maaf aku ngga bisa nemenin kamu kaya dulu lagi. Aku udah ngga bisa ngejagain kamu, kita dekat tapi jauh, aku tak lagi bisa menggemgam erat tanganmu.
        Aku janji aku akan kembali pulang untuk mempertahankan cinta kita die. Karena aku sayang kamu, tulus dari hatiku.
        Aku tau die kamu juga masih sayang sama aku, udah ya die jangan nangis terus jangan nangis lagi gara – gara surat ini.
        Doain aku sukses ya, biar aku cepat kembali dan nemenin kamu lagi. Aku sayang kamu, Diorita…
                        Salam rindu,

                        Sion Simarata
         



Die semakin tersendu membaca surat dari sion, ia sadar bahwa sion memang sangat menyayanginya namun die terlalu egois.
          Niar merangkul sahabatnya dan tersenyum lembut pada die.
          “die, aku tahu kok kamu sedih banget kan tapi kamu harus kuat ini pilihan kamu die, kamu ngga boleh lemah kaya gini kamu semangat dong, kamu doain aja biar dia sukses disana toh dia janji akan kembali buat kamukan?”
          Die terus menangis tersendu, ia memeluk niar sahabatnya. Mereka berdua pulang menuju rumah die.
         


Welcome Bandung..

Satu minggu setelah keberangkatan sion ke belanda kini giliran keberangkatan die kebandung.
Ia tak sendiri kesana, di temani ayah ibunya die membenahi kamar kosnya yang akan ia huni untuk empat tahun ke depan.
Die tak sendiri karena niar sahabatnya juga mengambil pendidikan yang sama di bandung satu kos, satu kampus namun mereka berbeda fakultas, karena niar berada di fakultas teknik informatika.
Ia sudah cocok dengan tempat kos yang sekarang karena jaraknya tak terlalu jauh dari kampusnya.
Suasananya cukup ramai dan sepertinya komplek yang aman untuk tempat mereka hidup selama di bandung.
Senin nanti die dan niar sudah harus menjalankan ospek, segala hal mereka persiapkan dengan baik.
“die udah siap semuakan buat besok?” Tanya niar pada die.
“udah kok. Kamu gimana? Udah siap semua?”
“udah dong, tidur yuk biar besok kita ngga telat, kamu juga die udah yah ngga usah sedih terus, toh nanti sion bakal kembali,” kata niar.
Die terus memandangi fotonya bersama sion itu. Sejenak die terdiam. Die lembut berkata “aku bakal lupain sion ni”
“die? Lo yakin? Bukannya sion udah  janji bakal kembali?”
“aku ngga yakin sion bakal kembali buat aku setelah dia sukses nanti, dia bakal jadi orang hebat, mungkin sekarang memang dia berkata akan kembali, tapi nanti? Dia pasti akan mendapatkan orang yang lebih baik dari aku ni” jelas die.
Die pun meletakkan foto ia dengan sion pada meja di samping ranjangnya, menarik selimut dan memejamkan mata.
Niar terdiam dan bingung melihat keanehan yang terjadi pada sahabatnya itu.
“die..kasian kamu” batinnya.
Niar mengikuti jejak die untuk segera tidur, menarik selimut memejamkan mata tak lupa ia mematikan lampu kamar mereka.





          Suasana pagi bandung masih terasa asing untuk dua orang sahabat itu. Bangun pagi lekas bersiap – siap. Hari ini mereka akan merasakan ospek hari pertama, rasa cemas karena mendengar cerita – cerita horor mengenai ospek masih terngiang – ngiang di otak.
          Seperti biasa, setiap pagi die selalu menikmati cappuccino hangat favoritnya. Mereka berdua sudah bersiap sedari pagi padahal ospek dimulai jam 8 nanti.
          Berbeda dengan niar, niar sangat membenci cappuccino, dan dia sangat memfavoritekan vanilla late.
          “Ni. Udah siap semua kan? Jangan sampe kita telat yah, jangan lupa juga ya jangan sampe ada yang tertinggal loh” kata die.
          “udah deh lo tenang, ospek ngga se horror cerita orang kok die, kata abang gue yang horror itu sebenarnya seniornya, bukan ospeknya die”
          “iya tapikan ni”
          “udah deh lo tenang aja kalo nanti ada senior yang rese sama lo, lo tinggal ngomong ke gue aja”
          “tapi kan kita beda fakultas ni?”
          Niar memang berbeda dengan die, sifat, hobby dan keseharian mereka sangat berbeda. niar tak pernah merasa takut jika iya merasa benar, bisa di bilang mentalnya lebih kuat ketimbang die.
          Niar tak hidup bersama keluarga sempurna seperti die, ia tercetak dari keluarga yang berantakan, bisa di bilang broken home. Ayah ibunya bercerai saat niar masih duduk di bangku kelas 9 SMP, satu minggu sebelum niar melaksanakan Ujian Nasional orang tuanya memberi pernyataan kalau mereka akan berpisah, hatinya hancur berantakan, abang niar saat itu duduk di bangku kelas 2 SMA, niar selalu berusaha tegar, abangnya pergi kerumah kakeknya, memang niar perempuan berhati strong!
          “Ni, berangkat yuk..” ajak die.
          “berangkat? Masih jam setengah 8 loh die, dari kos kita ke kampus cuman 5 menit loh die, inget kitakan ada motor die..”
          “niarrrrr”
          “yaudah deh ayo kita berangkat adeku sayang..”
          Sifat niar kadang membuat die manja, sifat dewasanya membuat die menganggap niar seorang kaka, maklum saja die anak tunggal.
         
  



Senioritas
Sampai mereka di kampus, suasana kampus memang sudah ramai, tapi ramai oleh para mahasiswa baru yang super cupu.
          “ya ampun ini kampus apa pasar die? Rame banget”
          “sawah teh” tiba – tiba ada cowo yang menyauti omongan niar.
          “apaan sih lo kenal kaga nyaut – nyaut” kata niar sinis.
          “yaudah kenalin aku rangga”
          “oh.” Jawab Niar
          “niar kamu ngga boleh gitu kita butuh temen loh, kita belum punya satu temen pun disini” bisik die ke telinga niar.
          Niar hanya terdiam sambil memandang tajam ke arah cowo itu.
          “emm, kok pakaian lo ngga kaya mahasiswa yang lainnya?” Tanya niar sambil memandang aneh ke arah cowo itu.
          Cowo itu tak menjawab namun ia tertawa terbahak – bahak bagai melihat badut sedang melawak.
          “kok kamu malah ketawa?” Tanya die heran.
          “lagian yah ngapain juga aku harus pake baju kaya kalian berdua, aku tuh udah senior kalian, bukan mahasiswa baru..hahaha”
          Die dan niar saling menatap mereka merasa bersalah apalagi niar ia benar – benar merasa bersalah karena sudah tak sopan pada cowo itu, yang mengaku namanya rangga.
          “emmm, ka rangga…” belum selesai niar berbicara rangga langsung memotong ucapan niar.
          “aku tau kamu mau minta maafkan? Haha. Udahlah santai aja, aku tau kok kamu keselkan harus dandan kaya gitu? Ya maklumin ajalah namanya juga ospek.”
          Niar merasa beruntung karena ia bertemu dengan senior yang baik hati, tak galak seperti singa yang terbangun dari mimpi indahnya.
          “oh iya, kamu mahasiswi fakultas apa? Kok pakaian kamu beda sendiri disini?” Tanya rangga balik heran.
          “aku mahasiswi teknik informatika ka,” jawab niar.
          “teknik informatika? Ngapain masih disini, anak informatika itu selalu tepat waktu, aku saranin kamu jangan sampai telat, gih sana” kata rangga membuat die dan niar takjub.
          “oh iya kak, aku pergi dulu” ucap niar.
          “eh, siapa nama kamu?”
          “niar ka,”
          “kalau kamu?” menunjuk ke arah die.
          “die.” Jawabnya singkat.
          “oh iya niar, lain kali kamu hati – hati sama ucapan kamu ya, jangan kaya tadi kamu ngatain ini fakultas kaya pasar”
          “emm iya kak maaf” jawabnya sambil menundukkan kepala.
          “kaka sendiri fakultas apa?” Tanya die.
          “desainer” jawabnya sambil tersenyum geli.
          “hah?” die dan niar lagi – lagi di buat saling memandang.
          “haha, ngga lah ngga mungkin aku masuk desainer”
          “sukurlah” kata niar dalam hati.
          “terus anak apa ka?” Tanya niar penasaran.
          “anak ibu dong, hehe” rangga langsung pergi meninggalkan dua gadis itu yang telah dibuatnya penasaran.
          “die, itu cowo aneh banget deh, tapi lucu juga ya” kata niar sambil tersenyum kecil.
          “yaudah gih kamu sana pergi, aku juga mau masuk dulu nanti takutnya malah telat” suruh die.
          “yaudah aku pergi dulu ya, oh iya nanti pas pulang ketemu di parkiran aja yah”
          “oke bos” jawab die tegas.
          “semangat!” niarpun pergi ke fakultas teknik informatika.




          “kamu yang paling belakang” gertak senior itu ke arah niar.
          “saya ka?” jawab die menunjuk kearah dirinya sendiri.
          “iya kamu, kenapa dari tau tengak tengok dan ngga fokus memandang kearah depan?”
          “emm, ngga kok ka” jawabnya ragu, ia merasa bersalah karena sedari acara ospek dimulai niar memang selalu mencari keberadaan rangga, rupanya ia jatuh cinta?
          “kamu cepet maju kesini” perintah senior lainnya.
          Niar lekas ke depan menemui senior – seniornya yang terlihat ganas, memang tak di permalukan tak seperti mahasiswa yang mempunyai ke salahan seperti di film – film. Tapi ia mendapat hukuman.
          “maaf kak, saya ngaku salah kok”
          “apa yang kamu cari dari tadi?”
          “emmm, ngga cari apa – apa kok ka”
          “terus kenapa kamu tolah – toleh terus?” saut senior lain.
          “maaf ka..”
          “bukan permasalahan maaf, tapi disini kami ingin mengajarkan bagaimana kalian harus menghargai orang lain, kalian itu anak informatika, ngga boleh seenaknya sendiri”
          Niar tak menyangka ternyata seniornya sosok – sosok yang baik hati.
          “saya sadar saya salah ka, saya siap mendapat sangsi kok ka”
          “keren juga kamu berani gentle”
          “ga susah hukuman buat kamu, kamu cuman harus dateng ke ketua panita ospek terus minta maaf atas kesalahan kamu dan satu lagi kamu kembali kesini kalau udah dapet tanda tangan dia.”
          “ketua panitia ka?”
          “Iya, jelas – jelas tadi udah di jelasin kok siapa dia, kalau kamu tadi fokus ya tahu”
          “udah sana lekas cari” suruh senior lain yang terlihat cukup kiler.
          Niar segera mencari ketua panitianya yang entah dimana, bahkan siapa namanya pun dia tak tahu.
          Berbeda dengan niar, die justru sedang mengikuti kegiatan dengan hikmat, 85% anak desainer memang cewe, jadi kegiatannya agak berbeda dengan anak informatika.
          Niar berdoa bertemu dengan rangga karena ia yakin rangga pasti mau bantuin niar. Namun tetap niar tak menemukan sosok rangga, sampai akhirnya dia punya ide untuk melihat daftar panitia di ruang panita.
          Berjalan terus melangkah, setiap langkahnya selalu di perhatikan para seniornya, mungkin para senior yang tak tau sedang bingung kenapa ada satu mahasiswi yang sedang keliling padahal mahasiswa – mahasiswi yang lain lagi berkumpul di aula.
          Tibalah ia tepat di depan pintu ruang panitia, diperhatikan satu – satu.
          “ya ketemu!” ucapnya penuh semangat.
          Nama yang berada paling atas, membuat ia terkejut “KETUA PANITIA : RANGGA MAURERA”. Siapa dia? Apa cowo tadi pagi?
          Die memberanikan diri mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan itu. Ramai memang, ia mendadak diam, tak ia lihat sesosok laki – laki tadi pagi.
          “Cari siapa kamu?” Tanya salah satu senior disitu.
          “maaf kak saya lagi cari ka rangga” jawabnya.
          “rangga?” jawab senior itu sambil matanya mencari sesosok rangga.
          “oh itu” ucapnya menunjuk ke sosok yang baru saja membuka pintu ruangan ini.
          Ya tepat, rangga yang niar maksud memang benar, lelaki yang tadi pagi.
          “kamu, ada apa?” Tanya rangga.
          “maaf kak boleh ngomong sebentar” kata niar memohon.
          “yaudah di luar aja” ajak rangga.
          Mereka berdua keluar dari ruangan itu, niar menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya pada rangga yang telah ia anggap senior berhati malaikat.
          “lagian kamu ngapain tolah – toleh terus?” Tanya rangga penasaran.
          “emm tadi saya nyari kaka” jujurnya.
          “aku? Mau apa?” rangga merasa heran.
          “aku tadi masih penasaran kaka fakultas apa..” jawabnya malu.
          “sini kertas sama bolpoint kamu.”
          “ini ka” sambil megulurkan tagannya.
          Rangga segera menandatangani kertas itu dan segera mengembalikkan pada niar.
          “ini kertasnya udah gih cepet balik ke aula, kamu ngga perlu minta maaf kok aku juga bikin kamu salah”
          “makasih ka” ucap niar sambil tersenyum dan lekas lari kembali menuju aula.



Siapa jatuh cinta?
          Ospek telah berakhir, die dan niar kini sudah jadi mahasiswi asli, rasa bangga tertanaman pada diri mereka.
          Ospek ini memang melukiskan banyak cerita indah pada die dan niar, sekarang mereka udah ngga berdua lagi di bandung, udah punya banyak temen baru dari berbagai daerah, bahkan sudah jatuh cinta.
          Siapa jatuh cinta? Masa secepat itu, die? Bukan, kali ini niar ia merasa tertarik pada seniornya itu, rangga. Ternyata rangga juga anak teknik informatika asli bandung.
          Baru kali ini niar merasakan jatuh cinta. Tapi die, die juga merasa tertarik dengan rangga, namun hanya ketertarikan biasa saja.
          Die dan niar merasa enjoy menjalani kehidupannya di bandung, bukan hanya menjadi mahasiswi biasa, keaktifan mereka di organisasi masih terus berlanjut, kali ini mereka berdua sama-sama menjadi anggota pencinta alam, mereka menyebutnya backpacker kuliahan. Mereka anak dari Kota Malang yang suasananya begitu indah bertemu dengan kota Bandung, ya rasanya tak pergi dari kota sendiri.
          Hari terus berlanjut die sedikit demi sedikit mulai melupakan sosok sion, walaupun susah melupakan sepenuhnya. Ia kini mempunyai beberapa teman laki-laki, tapi rasanya die jatuh cinta pada orang yang sama dengan niar.
          Memang kini rangga, niar dan die sering jalan dan nongkrong bareng, malam itu malam minggu dan awal bulan, dimana anak kos-an masih punya banyak uang kertas di dompet, mereka bertiga sama-sama penggila coffe, dan mereka bersantai di kedai coffe yang tak jauh dari posisi gedung sate.
          “kalian berduka suka coffe? Kalaupun tidak tenang aja disini emang kedai coffe tapi banyak minuman selain coffe juga kok” kata rangga sangat megenal kedai ini.
          “kaka tenang aja, kita berdua itu penggila coffe” jawab niar semangat.
          “ayo masuk kita duduk di bangku pojok dekat jendela itu ya” ajak rangga.
          Mereka terus berjalan, rangga selalu menyapa karyawan yang berada disana, terlihat sudah sangat dekat dengan mereka.
Mereka bertiga duduk di tempat pilihan rangga. Daftar menu datang menyambut kehadiran mereka.
          “sehat bro? lama ngga keliatan?” ucap pelayan coffe itu pada rangga.
          “iyanih lagi sibuk”
          “wah tumben nih bawa cewe, dua pula”
          “oh iya ini junior ku di kampus, ini niar dan ini die” ucapnya sambil menunjuk kearah dua gadis penggila coffe itu.
          “aku dion, salam kenal, selamat bergabung menjadi pelanggan kami” ucap pelayan itu sambil meninggalkan meja pojokan itu.
          “kamu suka coffe apa ni?” Tanya rangga sambil menulis cappuccino hangat favoritnya.
          “Kalau akusih suka semua coffe asal jangan cappuccino aja. Aku pesen vanilla late ya ka” kata niar.
          “loh emang kenapa dengan cappuccino?”
          “ngga suka aja ka”
          “niar memang sudah sejak dulu ngga pernah suka cappuccino, berbanding terbalik dengan ku, aku justru sangat menyukai cappuccino” sambung die yang merasa di cueki.
          “oh ya? Sama dong, aku juga ngga pernah suka vanilla late”
          Rangga kembali memanggil dion pelayan coffe.
          “bro” ucapnya.
          Dion kembali mendekat dan menanyakan apa pesanan langganannya itu. Walaupun dion sudah menebak pesanan rangga namun kali ini ada dua orang baru yang belum ia kenal sama sekali.
          “cappuccino dua sama vanilla late satu” pesan rangga.
          “oke siap bos!” kata dion.

          Sambil menunggu pesanan mereka datang mereka berbincang – bincang, wajah mereka sangat lepas malam ini, raut wajah die berbeda sendiri saat itu, selain merasa di cueki, die juga mulai memikirkan sion, apakah sion melakukan hal yang sama di belanda? Bersama perempuan belanda? Fikiran die selalu tertuju pada sion.
          “die. Kamu kenapa?” Tanya rangga.
          Die tetap terdiam dan tak menjawab, ia melamun.
          “die” panggil niar sambil mencubit tangan die.
          “aduh, sakit tau ngga. Kenapa sih kamu?” die marah – marah tak jelas.
          “duh die, kamu yang kenapa? Dari tadi terus melamun, kamu sakit?”
          

bersambung ...